Obligasi Rupiah Layak Jadi Safe Haven di 2019, Ini Alasannya!

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
09 October 2019 21:13
Obligasi Rupiah Layak Jadi Safe Haven di 2019, Ini Alasannya! Foto: Freepik
Jakarta, CNBC Indonesia - Obligasi rupiah pemerintah pantas dianggap sebagai instrumen investasi aman (safe haven instrument) tahun ini, karena telah membukukan total keuntungan lebih dari 11% tahun ini dari sisi laba transaksi (capital gain) dan kupon (total return).

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director-Head of Fixed Income PT Anugerah Sekuritas Indonesia, menilai total keuntungan itu masih bisa bertambah lebih dari 1% jika suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) dan domestik turun sekali lagi. Hitungan return itu didapat dari indeks INDOBeX Government Total Return PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA).

"Jadi seharusnya tinggal masuk ke pasar obligasi jika ingin untung hingga akhir tahun, dengan kondisi di luar negeri tidak ada peristiwa yang terlalu ekstrim dan berimplikasi negatif terjadi," ujarnya hari ini (9/10/19).


Dia mengatakan saat ini investor asing sudah masuk ke pasar surat utang negara (SUN) yang tercermin dari porsi investasi asing di pasar obligasi rupiah pemerintah yang naik sepekan terakhir. Derasnya dana investor asing ke instrumen obligasi tidak hanya terjadi di pasar tetapi juga dalam lelang yang menawarkan seri-seri acuan baru untuk tahun depan.

Menurut dia, pasar obligasi menjadi buruan investor tahun ini karena momentum global yang relatif negatif sepanjang tahun ini dan tren penurunan suku bunga yang menguntungkan bagi pasar efek utang.

Hari ini, pasar SUN masih dibekap sentimen negatif mulai dari memanasnya kembali hubungan Amerika Serikat (AS)-China sehingga harapan damai dagang dalam waktu dekat yang mulai diragukan bakal mengemuka pada pertemuan delegasi kedua negara besok.

Turunnya harga surat utang negara (SUN) itu tidak senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara berkembang yang lain. Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan hasil investasi juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling melemah adalah FR0077 yang bertenor 5 tahun dengan kenaikan yield 4,9 basis poin (bps) menjadi 6,69%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

 

Yield Obligasi Negara Acuan 9 Okt'19

Seri

Jatuh tempo

Yield 8 Okt'19 (%)

Yield 9 Okt'19 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar IBPA 9 Okt'19 (%)

FR0077

5 tahun

6.646

6.695

4.90

6.6633

FR0078

10 tahun

7.257

7.271

1.40

7.2662

FR0068

15 tahun

7.695

7.691

-0.40

7.6652

FR0079

20 tahun

7.845

7.861

1.60

7.8499

Sumber: Refinitiv/IBPA

 

Koreksi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return masih melemah. Indeks tersebut turun 0,15 poin (0,06%) menjadi 262,45 dari posisi kemarin 262,6.

Pelemahan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 572 bps, melebar dari posisi kemarin 571 bps. Yield US Treasury 10 tahun naik 0,9 bps hingga 1,54% dari posisi kemarin 1,53%.

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada yield pasangan seri 3 bulan-5 tahun, 2 tahun-5 tahun, 3 tahun-5 tahun, dan 3 bulan-10 tahun, yang lumrah terjadi sejak perang dagang China-AS memanas pada April lalu.

Saat ini pelaku pasar global lebih menantikan inversi yang terjadi pada yield tenor 2 tahun-10 tahun yang mulai mereda, karena menjadi indikator yang lebih menegaskan kembali bahwa potensi resesi AS semakin dekat dibanding inversi tenor lain. Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang.

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.

 

Yield US Treasury Acuan 9 Okt'19

Seri

Benchmark

Yield 8 Okt'19 (%)

Yield 9 Okt'19 (%)

Selisih (Inversi)

Satuan Inversi

UST BILL 2019

3 Bulan

1.7

1.708

3 bulan-5 tahun

34

UST 2020

2 Tahun

1.425

1.427

2 tahun-5 tahun

5.9

UST 2021

3 Tahun

1.381

1.386

3 tahun-5 tahun

1.8

UST 2023

5 Tahun

1.358

1.368

3 bulan-10 tahun

15.3

UST 2028

10 Tahun

1.54

1.555

2 tahun-10 tahun

-12.8

Sumber: Refinitiv

 

 

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.030,68 triliun SBN, atau 38,64% dari total beredar Rp 2.667 triliun berdasarkan data per 8 Oktober.

Angka kepemilikannya masih positif Rp 137,43 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. Sejak akhir pekan lalu, investor asing tercatat keluar dari pasar SUN senilai Rp 100 miliar, sedangkan sejak awal bulan masih surplus Rp 1,29 triliun.

Koreksi di pasar surat utang hari ini juga terjadi di pasar ekuitas dan rupiah di pasar valas, yang masing-masingnya turun tipis 0,17% dan 0,11%. Dari pasar surat utang negara berkembang, penguatan harga terjadi secara luas sehingga yield mayoritas obligasi negara turun.

 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 8 Okt'19 (%)

Yield 9 Okt'19 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil

6.99

6.94

-5.00

China

3.139

3.119

-2.00

Jerman

-0.598

-0.57

2.80

Prancis

-0.301

-0.277

2.40

Inggris

0.416

0.443

2.70

India

6.669

6.656

-1.30

Jepang

-0.209

-0.202

0.70

Malaysia

3.409

3.401

-0.80

Filipina

4.637

4.679

4.20

Rusia

6.85

6.8

-5.00

Singapura

1.667

1.662

-0.50

Thailand

1.485

1.5

1.50

Amerika Serikat

1.539

1.548

0.90

Afrika Selatan

8.28

8.225

-5.50

 Sumber: Refinitiv


TIM RISET CNBC INDONESIA


(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading