Internasional

Data Manufaktur AS Resesi, Trump Semprot The Fed

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
02 October 2019 15:28
Presiden AS mengecam bank sentral The Federal Reserve dan pemimpinnya Jerome 'Jay' Powell pada hari Selasa (2/10/19)
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengecam bank sentral The Federal Reserve dan pemimpinnya Jerome 'Jay' Powell pada hari Selasa (2/10/19). Kritikan kali ini dilayangkan setelah rilis data sektor manufaktur yang lemah.


Trump mengatakan bank sentral AS telah mempertahankan suku bunga yang terlalu tinggi. Dolar yang kuat merugikan pabrik-pabrik AS.

"Seperti yang saya perkirakan, Jay Powell dan Federal Reserve telah membiarkan Dolar menjadi sangat kuat, terutama relatif terhadap SEMUA mata uang lainnya, sehingga produsen kami terpengaruh secara negatif. Suku Bunga Fed terlalu tinggi. Mereka adalah musuh terburuk mereka sendiri, mereka tidak memiliki petunjuk. Menyedihkan!" tulis Trump.



Komentar Trump muncul setelah laporan dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan aktivitas manufaktur AS jatuh ke level terlemah dalam satu dekade pada bulan lalu. Perlambatan itu terjadi di tengah kekhawatiran perang dagang antara AS-China.

ISM memaparkan, indeks aktivitas pabrik nasional AS pada September turun ke 47,8, terendah sejak juni 2009. Sementara pada agustus di level 49,1.

Angka ini jauh di bawah poling Reuters yang memperkirakan indeks aktivitas pabrik as berada di posisi 50,1. Sebagai informasi, angka 50 ke atas merupakan level baik indeks.

Indeks ekspor baru juga turun hanya 41, terendah sejak Maret. Sebelumnya di Agustus angkanya 43,3.

"Komentar dari produsen mencerminkan penurunan kepercayaan bisnis yang berkelanjutan dan juga perdagangan global tetap menjadi masalah yang paling signifikan," kata ISM. Lembaga itu juga menambahkan bahwa pendekatan garis keras Trump terhadap perdagangan membuat lebih mengkhawatirkan daripada suku bunga AS atau penguatan dolar.

Trump kerap mengkritik The Fed dan Jerome Powell, yang ia tunjuk untuk memimpin bank sentral. Karena mempertahankan tingkat suku bunga AS di level yang relatif tinggi dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya.

Padahal, bank-bank sentral di Eropa dan Jepang telah memangkas suku bunga mereka menjadi di bawah nol. Ini dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan ekonomi yang melambat.

The Fed, telah menaikkan suku bunga sembilan kali selama tiga tahun hingga akhir 2018. Namun, di 2019, The Fed telah memotong suku bunga sebanyak dua kali, yaitu pada bulan Juli dan September lalu.



Suku bunga pinjaman utama The Fed sekarang ditetapkan dalam kisaran 1,75% hingga 2%, setengah poin persentase di bawah level tinggi baru-baru ini.

Tetapi selisih antara tingkat suku bunga AS dengan Eropa dan Jepang masih sangat luas. Hal ini merupakan salah satu alasan utama penguatan dolar.

Meski Trump kerap meminta Fed untuk menurunkan suku bunga, namun kemungkinan permintaannya tidak akan dipenuhi dalam waktu dekat. Sejak memotong suku bunga pada pertengahan September, sejumlah pejabat Fed telah menyuarakan dukungan untuk menahan suku bunga tetap di level saat ini kecuali jika data yang akan dirilis jauh lebih buruk.

Presiden Fed Chicago Charles Evans, di Frankfurt pada hari Selasa, mengatakan bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga di level saat ini. Evans termasuk di antara mereka yang mendukung penurunan suku bunga pada bulan Juli dan September.

The Fed sendiri baru akan merilis angka output manufaktur AS untuk September pada 17 Oktober.

Sementara itu sejumlah ekonom menilai risiko resesi di AS kian nyata. "Tidak ada akhir yang terlihat pada perlambatan ini, risiko resesi nyata," kata Torsten Slok, Kepala Ekonom di Deutsche Bank

"Kami sekarang telah memasuki resesi manufaktur di AS dan secara global," kata Peter Boockvar, Kepala Investasi di Bleakley Advisory Group.

[Gambas:Video CNBC]


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading