Internasional

Semenanjung Korea Panas, Korut Tembak Rudal Balistik

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
02 October 2019 11:45
Korut tembak rudal ke lepas pantai Rabu (2/10/2019)
Jakarta, CNCB Indonesia - Korea Utara dilaporkan menembakkan setidaknya satu rudal di lepas pantai timurnya pada hari Rabu (2/10/2019). Korea Selatan mengatakan rudal itu mungkin telah diluncurkan dari kapal selam, sehari setelah Korut mengumumkan dimulainya kembali perundingan yang bertujuan mengakhiri program nuklirnya dengan Amerika Serikat (AS).

Militer Korsel mengatakan telah mendeteksi peluncuran satu rudal yang terbang sejauh 450 km (280 mil) dan mencapai ketinggian 910 km (565 mil). Kemungkinan itu adalah senjata kelas Pukguksong, sebutan untuk rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM) Korea Utara sebelumnya. Saat ini rudal itu disebut sedang dalam pengembangan.

Sementara itu, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan Korut meluncurkan dua rudal balistik, yang salah satunya jatuh di perairan Zona Ekonomi Eksklusif Jepang (EEZ). Oleh karenanya Abe mengutuk langkah itu. Abe juga menyebut langkah Korut itu adalah pelanggaran terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB.



Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga juga mengatakan, tampaknya dua rudal diluncurkan dengan selang waktu beberapa menit saja, yang kedua jatuh di ZEE Jepang pada pukul 7:27 waktu setempat.

Mengutip laporan Reuters, belum ada penjelasan langsung untuk perbedaan penilaian Jepang dengan Korsel mengenai jumlah rudal yang ditembakkan.

Sementara itu, seorang pejabat senior pemerintah AS, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan mengetahui peluncuran itu.

"Kami mengetahui laporan kemungkinan peluncuran rudal Korut. Kami terus memantau situasi dan berkonsultasi dengan sekutu kami di wilayah ini." Jelasnya.

Para analis mengatakan, peluncuran rudal terbaru diduga sebagai tanda dari Korea Utara untuk memberi tahu penolakannya terhadap resolusi AS yang melarang penggunaan teknologi rudal balistik sebelum perundingan dengan Washington digelar.

"Tampaknya Korut ingin memperjelas posisi negosiasinya sebelum pembicaraan dimulai," kata Harry Kazianis, direktur senior studi Korea dari Pusat Kepentingan Nasional. "Pyongyang tampaknya akan mendorong Washington mundur dari tuntutan-tuntutan denuklirisasi penuh masa lalu untuk apa yang hanya janji-janji pelonggaran sanksi," katanya.

Terakhir kali AS dan Korea Utara mengadakan pembicaraan nuklir adalah pada bulan Februari. Saat itu Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengadakan pertemuan puncak di Vietnam. Namun pertemuan mereka tidak menghasilkan kesepakatan apapun.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya

Waduh, Korut Tembakkan Lagi Rudal ke Perairan Jepang


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading