Pengembang: Dampak Relaksasi LTV Baru Terasa pada 2020

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
26 September 2019 17:30
Namun, dampak dari kebijakan yang akan berlaku pada 2 Desember itu baru akan terasa pada semester pertama tahun depan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten properti di Bursa Efek Indonesia merespons positif kebijakan makroprudensial Bank Indonesia yang melonggarkan rasio pinjaman terhadap aset (loan to value) bagi kredit pemilikan rumah.

Pengembang properti yang belum lama ini melantai di BEI, PT Nusantara Almazia Tbk (NZIA) menyebut, kebijakan DP yang lebih rendah akan kembali menggairahkan sektor properti yang sudah sejak lima tahun terakhir ini lesu. Namun, dampak dari kebijakan yang akan berlaku pada 2 Desember itu baru akan terasa pada semester pertama tahun depan.

Sebabnya, meski kredit DP rumah dilonggarkan, perbankan masih belum menyesuaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) meski Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,25% untuk memacu konsumsi domestik.

Apalagi, perseroan saat ini mayoritas portofolio proyeknya adalah rumah bersubsidi dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).


"Bagi kami relaksasi baru akan terasa dampaknya di tahun 2020, penjualan unit properti akan meningkat," kata Direktur Utama Nusantara Almazia Deddy Indrasetiawan, kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/9/2019).

Hal senada juga disoroti Franky Rivan, Senior Reserach Analyst Kresna Sekuritas. Kebijakan Bank Indonesia ini akan membuat uang muka kredit pemilikan rumah (KPR) menjadi lebih murah, namun dampaknya belum akan terlihat dalam waktu dekat.

Di sisi lain, likuiditas perbankan yang saat ini, kata Franky sudah di level 95% membuat penyaluran kredit ke sektor properti menjadi sangat terbatas.

"Kebijakan relaksasi LTV ini belum akan terasa dampaknya dalam jangka pendek," kata Franky Rivan, saat dihubungi CNBC Indonesia, Jumat (20/9/2019).

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading