Dihantui Resesi & Ramai Aksi Demo, Yakin IHSG Tembus 6.500?

Market - Syahrizal Sidik, CNBC Indonesia
24 September 2019 07:29
Dihantui Resesi & Ramai Aksi Demo, Yakin IHSG Tembus 6.500?

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah mencuatnya sentimen resesi ekonomi di Amerika Serikat, perusahaan sekuritas masih optimistis kinerja bursa saham domestik tidak akan terlalu terdampak dari isu tersebut.

Sinarmas Sekuritas meyakini, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir tahun ini akan mencapai level psikologis 6.400-6.500, target tersebut tidak dipangkas dari proyeksi yang sudah ditetapkan sejak awal tahun.

Direktur Sinarmas Sekuritas, Kelly Rusli berpendapat, situasi pasar cukup dinamis pascaberakhirnya perhelatan Pemilu 2019 di semester pertama, namun masih ada harapan indeks terus menguat hingga penghujung tahun.



"Resesi kan hanya isu, kalau kami tidak memangkas target proyeksi IHSG hingga akhir tahun 6.400-6.500," kata Kelly Rusli di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (23/9/2019).

Sejumlah katalis positif yang akan akan turut berdampak bagi bursa saham hingga akhir tahun ini adalah jelang dilantiknya Joko Widodo dan Ma'ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019-2024. Pelantikan ini juga akan disertai kabinet baru pemerintahan yang akan memimpin dalam 5 tahun ke depan.

"Kabinet baru akan memberikan dampak positif," kata Kelly Rusli menambahkan.

Salah satu dampak positifnya, kata Kelly, bukan tidak mungkin, di pemerintahan yang akan datang lebih menghasilkan kebijakan yang positif bagi dunia usaha dan mendorong kian banyak perusahaan melantai di bursa saham, salah satunya melalui inisiasi pajak bagi emiten yang saat ini sedang diwacanakan pemerintah akan diturunkan.

Secara terpisah, menanggapi potensi resesi ekonomi global dan dampaknya ke pasar keuangan domestik, Kepala Ekonom Bank DBS Indonesia, Masyita Crystallin berpendapat, terjadinya resesi ekonomi di Amerika Serikat masih belum pasti.

Namun yang pasti, perlambatan ekonomi sudah dirasakan. Hal ini terindikasi dari mengetatnya likuiditas dan terjadi hampir di semua negara karena kebijakan moneter yang lebih ketat (monetary tightening) sejak tahun lalu.

"Probabilitas terjadi resesi di Amerika Serikat masih berubah-ubah," ungkapnya, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading