Kecemasan Resesi di Eropa, Wall Street Pun Loyo

Market - Putu Agus Pransuamitra & Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
23 September 2019 21:24
Namun data tersebut belum sanggup membuat Wall Street berbalik menguat, hanya mampu memangkas pelemahannya.
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham AS dibuka melemah pada perdagangan Senin (23/9/19) akibat munculnya kecemasan akan pertumbuhan ekonomi global dan resesi pasca rilis data-data dari Eropa.

Indeks Dow Jones pada pukul 20:55 WIB melemah 0,17%, S&P500 dan Nasdaq masing-masing turun 0,15% dan 0,17%, berdasarkan data refinitiv. 

Pada Jumat (20/9/19) Wall Street berakhir melemah setelah setelah negosiator dari China yang sedang berada di AS membatalkan kunjungan ke wilayah pertanian di Nebraska dan langsung kembali ke China.




Batalnya kunjungan ke pertanian tersebut menimbulkan tanda tanya, apakah China batal membeli produk pertanian AS atau hanya mempersingkat rencana di AS.

Hal tersebut memicu kecemasan akan memanasnya perang dagang AS-China yang membuat aksi jual di bursa saham.

Namun, batalnya kunjungan delegasi China ke wilayah pertanian ternyata memang memang diminta oleh AS. Bukan karena hasil perundingan dagang yang buruk.

Hal tersebut juga dikuatkan oleh Menteri Perdagangan China yang mengatakan pada pekan lalu diskusi AS dan China mengenai ekonomi dan dagang berlangsung "konstruktif", dan kedua negara sepakat untuk tetap mempertahankan hubungan, sebagaimana dilansir CNBC International.



Kabar tersebut harusnya menjadi sentimen positif yang dapat menopang kinerja bursa hari ini, tapi nyatanya bursa saham masih memerah.
Pelemahan bursa saham AS hari ini tidak lepas dari buruknya data aktivitas bisnis dari Benua Biru, yang semakin memicu kecemasan akan terjadinya resesi.

Raksasa ekonomi Jerman dan Perancis hari ini melaporkan data aktivitas bisnis yang terdiri dari sektor manufaktur dan jasa.

Indeks ini merupakan hasil survei dari manajer pembelian sehingga disebut juga purchasing managers' index (PMI). Angka 50 menjadi ambang batas, di atas 50 menunjukkan ekspansi atau peningkatan aktivitas, sementara di bawah 50 menunjukkan kontraksi atau aktivitas yang memburuk.

Jerman sebagai negara dengan nilai ekonomi terbesar di zona euro dan Eropa dilaporkan mengalami kontraksi sektor manufaktur dalam sembilan beruntun. Markit melaporkan manufaktur PMI bulan September sebesar 41,4, turun dari bulan sebelumnya 43,5.



Sementara sektor jasa meski masih berekspansi mengalami pelambatan menjadi 52,5 dari sebelumnya 54,8.

Sementara Perancis, negara dengan ekonomi terbesar kedua di zona euro juga dilaporkan mengalami pelambatan aktivitas bisnis. Sektor manufaktur dilaporkan melambat menjadi 50,3 dari sebelumnya 51,1, sementara sektor jasa melambat menjadi 51,6 dari sebelumnya 53,4.

Pelambatan yang terjadi di dua raksasa tersebut membuat zona euro secara keseluruhan juga terkena dampaknya. Aktivitas manufaktur melambat dalam delapan bulan beruntun. Di bulan September Markit melaporkan angka indeks di level 45,6, turun dari sebelumnya 47,0. Sektor jasa juga melambat menjadi 52,5, dari sebelumnya 54,8.

Rilis data tersebut memicu kecemasan akan terjadinya resesi di Eropa, apalagi pertumbuhan ekonomi Jerman sudah berkontraksi 0,1% quarter-on-quarter di kuartal II lalu. Jika kembali mengalami kontraksi di kuartal III, maka Jerman akan mengalami resesi teknikal.

Berbeda dengan Eropa, aktivitas manufaktur AS malah menunjukkan peningkatan ekspansi. Markit melaporkan indeks aktivitas manufaktur bulan September sebesar 51,0, naik dari bulan sebelumnya 50,3. Namun data tersebut belum sanggup membuat Wall Street berbalik menguat, hanya mampu memangkas pelemahannya.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading