Internasional

Harga Minyak Bisa "Gila" Jika AS-Iran Naikan Tensi Militer

Market - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
17 September 2019 09:49
Harga minyak diprediksi bakal makin tinggi jika AS dan Iran meningkatkan ketegangan militernya
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak diprediksi bakal makin tinggi jika AS dan Iran meningkatkan ketegangan militernya. Sebelumnya AS menegaskan Iran bertanggung jawab pada serangan fasilitas minyak Arab saudi, akhir pekan lalu, yang dilakukan pemberontak Houthi di Yaman.

Sebagaimana dilansir dari CNBC International, analis berpendapat kenaikan bahkan bisa terjadi beberapa minggu ke depan. Minyak Brent bisa menembus US$ 75 dan bisa semakin tinggi bila ada peperangan hingga mencetak rekor.

"Apa yang harga pasar berikan adalah premi risiko geopolitik dan risiko akhir. Sesuatu seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya," kata Amarpreet Singh, analis energi Barclays, Selasa (17/9/2019).




"Sesuatu seperti ini, sebelumnya belum pernah terjadi ke Saudi, bahkan selama Perang Teluk,".

Analis di Goldman Sachs juga mengatakan hal yang sama. Menurut lembaga ini, penanganan yang lebih lama akan fasilitas minyak di Saudi akan menimbulkan lonjakan tajam harga minyak mentah.

"Misalnya, jika tingkat produksi saat ini tetap turun selama lebih dari enam minggu, mungkin ada kenaikan cepat di Brent menjadi US $ 75 per barel," kata lembaga ini dalam sebuah catatan. Brent adalah patokan internasional dan secara tradisional lebih sensitif terhadap peristiwa di Timur Tengah.

Tetapi kenaikan harga minyak yang lebih tinggi, tergantung apakah ada serangan lebih lanjut atau respons militer dari Arab Saudi, AS, atau lainnya misalnya Iran. "Jika ini meningkat menjadi perang, anda akan melihat minyak US$ 100 per barel," kata analis lain John Kilduff dari Again Capital.

Meski demikian, Presiden AS mengatakan dirinya tidak akan terburu-buru merespon penyerangan ini. Meski demikian ia mengatakan serangan yang terjadi pada fasilitas minyak Saudi Aramco itu, bukan main-main.

"Itu merupakan serangan yang besar," ujarnya. Ditegaskannya Sekretaris Pemerintahan AS Mike Pompeo sedang berkunjung ke Arab Saudi.

Pembicaraan dengan negara-negara sekuti AS juga sudah dilakukan. Termasuk dengan negara Uni Eropa seperti Jerman yang menandatangani perjanjian nuklir dengan Iran.

Sebelumnya AS menyebut menemukan bukti bahwa Iran berada di balik serangan. Sementara itu, Arab Saudi menyerukan PBB untuk menyelidiki serangan tersebut.


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading