KPK Shutdown! Akankah Asing Kabur Lagi dari RI?

Market - Dwi Ayuningtyas & tahir saleh, CNBC Indonesia
16 September 2019 07:25
KPK Shutdown! Akankah Asing Kabur Lagi dari RI?
Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya mampu menguat 0,41% menjadi 6.334,84. Kenaikan tersebut lebih rendah dengan performa mayoritas bursa saham kawasan Asia yang berhasil menguat di atas 1%.

Pada perdagangan Jumat (13/9/2019), IHSG ditutup minus 0,12% di level 6.334,84.

Namun yang menjadi perhatian ialah angka jual bersih investor asing atau net foreign sell yang mencapai Rp 911,11 miliar di semua pasar, terdiri dari Rp 783,59 miliar di pasar reguler dan Rp 127,52 di pasar negosiasi dan tunai.


Aksi beli asing ini semakin menjadi pada Kamis dan Jumat setelah pada periode tersebut gejolak politik Tanah Air semakin berkelindan, kendati aliran modal asing keluar ini utamanya digerakkan sentimen global dari perang dagang.

Puncaknya terjadi pada Jumat (13/9/2019) ketika net sell asing mencapai Rp 135 miliar dalam sehari di tengah tarik ulur konflik politik di DPR, terutama soal revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 


Pada Jumat malam, seperti diketahui, tiga pimpinan KPK, yakni Agus Rahardjo, Laode M Syarif dan Saut Situmorang memutuskan mengembalikan mandat ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). Alasannya, mereka tidak pernah diajak berdiskusi dalam pembahasan revisi UU KPK.

Pakar hukum tata negara Refly Harun, dikutip Detiknews, mengatakan KPK saat ini dalam posisi shutdown setelah para pimpinan mengembalikan mandat ke Presiden. Kondisi itu, menurutnya, menjadi angin segar bagi para koruptor lantaran tidak ada OTT (operasi tangkap tangan) sampai Presiden Jokowi turun tangan.

Tak jelasnya persoalan kepastian hukum, khususnya dalam bidang pemberantasan korupsi ini dikhawatirkan secara tidak langsung akan membentuk persepsi negatif bagi investor sehingga berpotensi menciptakan aliran modal keluar atau capital outflow karena investor ragu dengan kepastian hukum di dalam negeri. 

PAGI-KPK Dihajar Sana-sini, Akankah Asing Kabur Lagi dari RI?Foto: KPK Gelar Konferensi Pers (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)


"KPK memainkan peran yang tidak terlihat dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik dan iklim investasi. Kami percaya bahwa langkah agresif dari KPK untuk memberantas korupsi telah menciptakan efek jera di sektor pemerintahan, mendorong transparansi, dan membuat ekonomi lebih efisien," sebut Putera Satria Sambijantoro, ekonom Bahana Sekuritas, dalam risetnya dikutip CNBC Indonesia.


Preseden buruk ini juga ditakutkan akan berimbas ke pasar saham, apalagi dalam beberapa riset sebelumnya selalu menghubungkan antara kepastian hukum, persepsi pasar, dan investasi di Indonesia. Jika kepastian hukum semakin tak jelas, bukan tak mungkin net sell terus akan terjadi, baik di saham maupun pasar obligasi.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Bank Dunia (World Bank/WB) kepada 754 perusahaan internasional, faktor kestabilan politik dan keamanan memang merupakan kunci utama dalam keputusan investasi. Sementara kepastian hukum menjadi faktor kedua yang hampir sama pentingnya.

Hal ini dapat dimengerti karena ketidakpastian merupakan musuh utama investasi.

Jika melihat data Bursa Efek Indonesia, dalam sebulan terakhir, net sell asing sudah Rp 6,09 triliun hingga Jumat pekan lalu.

Adapun sejak awal tahun hingga saat ini (year to date), asing sudah keluar di pasar saham Indonesia Rp 11,65 triliun di pasar reguler. Sementara di pasar negosiasi dan pasar tunai terjadi net buy asing Rp 63,98 triliun karena adanya merger dan akuisisi perbankan.

Selain kepastian hukum, aksi net sell pekan lalu memang tak bisa dilepaskan dari isu utama yakni sentimen 
damai dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China yang semakin kentara.


Namun, Tim Riset CNBC Indonesia menilai sepertinya investor asing yang bertransaksi di bursa saham Tanah Air cukup waspada dan lebih memilih untuk mengambil sikap defensif.

Pekan lalu, beberapa saham yang dilego oleh investor asing di antaranya PT Tower Bersama Infrastructures Tbk (TBIG) senilai Rp 223,53 miliar, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 190,3 miliar, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) dengan nilai Rp 137,97 miliar.

Lainnya yakni PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) senilai Rp 98,44 miliar dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 92,68 miliar.


Walaupun begitu, data pasar menunjukkan masih banyak investor asing yang memburu saham-saham, terutama yang masuk daftar LQ45. Ini menunjukkan bahwa investor asing memilih menggelontorkan dana mereka pada saham dengan likuiditas tinggi dan kinerja yang stabil.

Saham yang dimaksud yakni dari emiten PT Bank Central Asia Tbk/BBCA Rp 122,11 milar, PT XL Axiata Tbk/EXCL sebesar Rp 111,63 miliar, PT Astra Telekomunikasi Tbk/ASII dengan nilai Rp 109,26 miliar, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM sebesar Rp 97,84 miliar, dan PT HM Sampoerna Tbk/HMSP Rp 69,76 miliar.

Makin runyak, KPK kembalikan mandat ke Jokowi

[Gambas:Video CNBC]


(tas/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading