Dongeng September Kelabu untuk Emas, Akankah Jadi Nyata?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
14 September 2019 11:18
Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

Jarkarta, CNBC Indonesia - Harga emas melemah 0,68% pada perdagangan Jumat (13/9/19) ke level US$ 1.488,45/troy ons. Logam mulia mencatat pelemahan tiga pekan beruturut-turut.

Sejak mencapai level tertinggi sepanjang masa Bulan September memang kurang bersahabat bagi emas sejak mencapai rekor tertinggi sepanjang masa US$ 1.920,30/troy ons. Rekor tersebut dicapai pada 6 September 2011, dan di bulan yang sama harga emas anjlok hampir 11%.

Sejak saat itu pada periode 2011 sampai 2018, emas melemah sebanyak enam kali pada bulan September di masing-masing tahun, dan hanya menguat dua kali.

Jika pada bulan September 2011 harga emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, pada September ini emas mencapai rekor tertinggi 2019 di level US$ 1.557/troy ons.



Ada peluang emas akan mengulang kinerja buruk di bulan ini jika persepsi investor akan kondisi pasar finansial global terus membaik. Sejauh ini, sepanjang bulan September emas sudah melemah lebih dari 2%.




Di pekan ini, harapan akan adanya damai dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China membuat sentimen pelaku pasar "berbunga-bunga". Selera terhadap risiko (risk appetite) meningkat, bursa saham menguat, dan emas menjadi kurang menarik.

Membaiknya persespi pelaku pasar terjadi setelah munculnya harapan damai dagang antara AS dengan China. Pemerintah Tiongkok pada hari Rabu menghapus pengenaan bea masuk untuk importasi 734 produk AS di antaranya daging sapi, daging babi, kedelai, dan tembaga.

Presiden AS Donald Trump memuji langkah ini. Menurut Trump, Beijing sudah melakukan langkah besar. 

"Mereka (China) pernah membuat sejumlah kebijakan yang cukup baik. Saya rasa ini gestur yang baik. Namun yang sekarang adalah langkah besar," kata Trump, seperti diwartakan Reuters.

Tebaru pada Kamis (12/9/2019) waktu AS, Presiden Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dia ingin menandatangani perjanjian penuh dengan Beijing, namun dia membuka opsi untuk mencapai kesepakatan sementara.

"Bayak orang membicarakannya, saya melihat banyak analis mengatakan kesepakatan sementara - artinya kita akan mendahulukan yang mudah dulu. Tetapi tidak ada yang mudah atau sulit. Ada kesepakatan atau tidak ada kesepakatan. Tapi itu sesuatu (opsi) yang akan kita pertimbangkan, kurasa," ujar Trump seperti dikutip CNBC International.

Harapan akan damai dagang AS-China pun membuncah, dan pelaku pasar terus memburu aset berisiko yang memberikan imbal hasil tinggi, dan emas menjadi kurang menarik.

HALAMAN SELANJUTNYA >> Ini yang Bisa Selamatkan Emas (NEXT)




(pap/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading