Giant Bakal Tutup Gerai Lagi, Bagaimana Kinerja Peritel Lain?

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
13 September 2019 11:15
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Hero Supermarket Tbk (HERO) tampaknya akan kembali menutup salah satu gerai supermarket Giant pada semester kedua tahun ini. Pasalnya, salah satu gerai Giant di Poins Square, Lebak Bulus sedang mengobral habis barang dagangannya dari 1 Agustus hingga 29 September.

Giant yang berada di lantai dasar Poins Square itu memang sudah menempelkan banyak selebaran pemberitahuan obral besar-besaran. Salah satunya tertulis 'Semua Harus Terjual Habis', dilansir dari Detiknews.com.

Sebelumnya, pada 28 Juli 2019 HERO telah resmi menutup enam jaringan ritel Giant, yakni Giant Express Cinere Mall, Giant Express Mampang, Giant Express Pondok Timur, Giant Extra Jatimakmur, Giant Extra Mitra 10 Cibubur, dan Giant Extra Wisma Asri (Bekasi Utara).


Lalu, di tahun 2018 perusahaan juga menutup 26 gerai Giant. Melansir laporan keuangan perusahaan tahun lalu, penutupan gerai ini merupakan salah satu langkah restrukturisasi bisnis perusahaan karena adanya penurunan yang berkelanjutan pada performa bisnis makanan.


Sebagai dampak atas restrukturisasi tersebut, HERO mencatat kerugian mencapai Rp 1,38 triliun. Alhasil, sepanjang tahun lalu perusahaan harus pasrah membukukan kerugian hingga Rp 1,25 triliun.

Melihat catatan tahun lalu, sepertinya perusahaan masih belum dapat sepenuhnya membangkitkan performa bisnis makanan mereka.

Hingga saat ini CNBC Indonesia belum mendapatkan keterangan resmi dari manajemen HERO terkait informasi detail penutupan gerai ini. Tony Mampuk,
Corporate Affairs GM Hero Supermarket menegaskan sudah lagi tak menjabat di posisi tersebut dan merekomendasikan narasumber Hero lainnya.
 Perseroan juga belum memberikan keterangan resmi di Bursa Efek Indonesia.

Sampai akhir Juni 2019, kinerja keuangan HERO terlihat belum pulih karena mencatatkan pertumbuhan negatif baik di pos pendapatan maupun laba.

Total pendapatan HERO pada semester I-2019 melemah 2,53% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 6,67 triliun dari sebelumnya Rp 6,85 triliun di semester I-2018.

Kinerja bottom line (laba bersih) perusahaan bahkan lebih parah, karena pada periode yang sama laba bersih anjlok 76,97% YoY ke level Rp 7,9 miliar dari Rp 34,3 miliar.

Melansir siaran pers HERO pada 31 Juli 2019, Presiden Direktur HERO Patrik Lindvall menyampaikan bahwa penurunan keuntungan disebabkan oleh investasi yang signifikan pada bisnis IKEA, salah satu merek ritel yang dimiliki perusahaan.

Lindvall juga mengatakan bahwa IKEA dan Guardian (merek ritel kesehatan dan kecantikan) berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan dua digit pada paruh pertama tahun ini.

Akan tetapi, investor tetap patut mencermati posisi arus kas dan setara kas HERO yang terkoreksi hingga 64,45% dibandingkan dengan Juni 2018. Terlebih lagi arus kas operasi perusahaan tercatat negatif Rp 209,47 miliar, dari sebelumnya positif Rp 372,69 miliar. Arus kas operasional negatif umumnya mengindikasikan trend penurunan laba.

Lalu bagaimana sebenarnya performa peritel makanan lainnya?

LANJUT KE HALAMAN 2: Simak Performa Peritel Lainnya (dwa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading