Pasar Obligasi Global Memerah, Harga SUN Ikutan Terkoreksi

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
12 September 2019 12:09
Pasar Obligasi Global Memerah, Harga SUN Ikutan Terkoreksi
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah dibuka terkoreksi pada perdagangan siang ini, Kamis (12/9/2019) di tengah sentimen negatif dari turunnya harga minyak global dan sentimen positif dari membaiknya tensi perang dagang Amerika Serikat (AS)-China.

Turunnya harga surat utang negara (SUN) itu senada dengan koreksi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain. 

Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya.

Yield
yang menjadi acuan hasil investasi yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.


SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling melemah adalah FR0079 yang bertenor 20 tahun dengan kenaikan yield 1,4 basis poin (bps) menjadi 7,83%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.




 

Pelemahan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 549 bps, menyempit dari posisi kemarin 552 bps. Yield US Treasury 10 tahun naik lagi 3,1 bps hingga 1,76% dari posisi kemarin 1,73%.

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada beberapa pasang seri yang lumrah terjadi sejak perang dagang China-AS memanas pada April lalu.



Saat ini pelaku pasar global lebih menantikan inversi yang terjadi pada yield tenor 2 tahun-10 tahun yang mulai menghilang, sebagai indikator yang lebih menegaskan kembali bahwa potensi resesi AS semakin dekat dibanding inversi tenor lain.

Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang.

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis


  

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.011,61 triliun SBN, atau 38,43% dari total beredar Rp 2.632 triliun berdasarkan data per 9 September.

Angka kepemilikannya masih positif atau bertambah Rp 118,36 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. Sejak akhir pekan lalu, investor asing tercatat masuk ke pasar SUN senilai Rp 1,04 triliun dan sejak awal bulan sudah surplus Rp 2,01 triliun.

Koreksi di pasar surat utang hari ini juga di pasar ekuitas yang turun 0,23% menjadi 6.267 untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedangkan rupiah di pasar valas masih menguat 0,39% ke Rp 14.000 per dolar AS.

Dari pasar surat utang negara berkembang dan maju, koreksi terjadi secara luas sehingga yield mayoritas obligasi negara naik.

Hal tersebut mencerminkan investor global sedang menghindari obligasi pemerintah karena sedang dibekap sentimen positif terkait dengan sifat instrumen utang yang dinilai lebih aman dibanding pasar ekuitas.





TIM RISET CNBC INDONESIA

 

(irv/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading