Duh! Sepekan Saham Telkom Diobral Asing Rp 317 M

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
06 September 2019 11:04
Duh! Sepekan Saham Telkom Diobral Asing Rp 317 M
Jakarta, CNBC Indonesia - Investor asing masih belum berhenti melepas kepemilikan di saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). Jumat pagi ini (6/9/2019), jual bersih saham oleh investor asing membuat harga saham perseroan terkoreksi.

Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), akumulasi jual bersih asing (net sell) hingga 10.34 WIB, mencapai Rp 6,81 miliar. Ini membuat saham Telkom anjlok 2,08% ke level Rp 4.230/saham.

Volume perdagangan saham tercatat mencapai 33,03 juta saham senilai Rp 142 miliar.


Secara year to date, investor asing sebenarnya masih membukukan net buy senilai Rp 3,88 triliun. Harga saham Telkom juga naik 12,8% pada periode yang sama.


Namun dalam sepekan terakhir ini, saham Telkom paling banyak dilepas investor asing dengan nilai net sell Rp 316,57 miliar.

Senior Market Analis PT Kresna Sekuritas, Etta Rusdiana Putra, dalam artikel opini yang berjudul, "Stroomnet PLN Saingi IndiHome Telkom, Apa Kabar Sinergi BUMN?," yang dipublikasikan di CNBC Indonesia beberapa waktu lalu sempat menyoal kehadiran layanan internet dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan nama Stroomnet.

Layanan ini, secara terbuka menabuh genderang perang terhadap pelaku usaha jaringan internet kabel rumah (fiber to the home/FTTH).

Apalagi PLN melakukan rebranding layanan internet dan layanan TV berbasis internet.

Disadari atau tidak, Stroomnet berkompetisi langsung dengan IndiHome, produk berkarakteristik sama persis dengan Stroomnet, yang dirilis Telkom serta produk lain milik perusahaan swasta penyedia layanan internet (internet service provider/ISP).

Gebrakan PLN ini dilakukan melalui anak usahanya, yaitu Indonesia Comnets Plus (ICON+), yang didirikan pada tahun 2000 dan mengantongi izin penyediaan internet dan telepon untuk publik sejak tahun 2005.

Etta menjelaskan ICON+ sebenarnya telah menawarkan layanan komersial sejak 2008, menggunakan teknologi internet melalui kabel listrik (broadband-over-powerline), tetapi gagal di pasar karena tidak mendapat perhatian dari publik.

Kini, lanjut Etta, perusahaan penguasa jaringan listrik tersebut mencoba lagi peruntungan di bisnis ini seiring efisiensi di pasar internet, sementara permintaan masyarakat kian tinggi sebagai kebutuhan utama. Tak heran, PLN berani menawarkan paket Stroomnet senilai Rp 89.000 untuk layanan data 5 Mbps per bulan, setara 1,9% dari pendapatan tahunan (Rp 56 juta).

"Gebrakan ICON+ ini berpotensi menggeser IndiHome. Alasannya, PLN memiliki 71,1 juta pelanggan (per 2018), yang berpotensi menjadi pelanggan internet, atau nyaris sepuluh kali lipat dari pelanggan telepon Telkom yang hanya 7,9 juta orang (per semester I/2019)," tulis Etta.

Dari BRI Hingga Telkom jadi Jawara Laba & Omzet

[Gambas:Video CNBC]


Apalagi, ongkos layanan Stroomnet lebih menarik dari IndiHome dan ISP FTTH swasta lainnya. Hal ini dimungkinkan karena sebagai penguasa jaringan listrik Nusantara PLN memiliki jaringan terintegrasi di seluruh Indonesia sehingga bisa menciptakan efisiensi dalam layanannya.

Namun investor pemilik saham TLKM, lajut Etta, tidak perlu panik karena masih ada ruang bagi keduanya untuk berkolaborasi.

"Dalam analisis kami, kapasitas finansial ICON+ masih terbatas karena pada 2018, penjualannya hanya Rp 2,2 triliun dengan laba bersih Rp 442 miliar (margin bersih 20,4%). Sementara itu, modal ekuitas hanya Rp 2,1 triliun," jelas Etta.

Terbatasnya modal ini menjadi kendala bagi ICON+ mengerjakan seluruh potensi pasar. Di sinilah mitra menjadi penting dan Telkom berpeluang menjadi kandidat kuat bagi ICON+.

Sebagai BUMN telekomunikasi, Telkom memiliki apa yang sangat dibutuhkan ICON+ yakni jaringan internet internasional.

Dengan posisi finansial yang lapang, Telkom pun siap mengucurkan dana bagi pengembangan ICON+. Ada baiknya Telkom berinvestasi di ICON+ ketimbang membeli menara milik PT Indosat Ooredoo Tbk (ISAT) karena posisi bisnis ICON+ lebih strategis dalam jangka panjang.

"Kami optimistis bahwa BUMN masih bersinergi dan bukannya saling libas dalam kompetisi ekstrem. Keyakinan ini muncul melihat tren kerjasama antar BUMN yang dilakukan melalui pembentukan perusahaan induk (holding) BUMN," tambah Etta.

(hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading