Utang BUMN Karya Menggunung, Perlukah Jual Aset?

Market - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
20 August 2019 13:31
Utang BUMN Karya yang menggunung demi menggenjot proyek infrastruktur era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi persoalan.
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai utang perusahaan BUMN Karya yang menggunung demi menggenjot proyek infrastruktur era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi persoalan yang terus disorot publik.

Peneliti BUMN, Danang Widoyoko mengatakan setidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan oleh BUMN Karya guna menyelesaikan persoalan utang yang tinggi dan menyentuh batas rasio kesehatan perusahaan.

"Pertama jual asetnya. Waskita Karya [WSKT], misalnya ya jalan tol harus dilepas ke investor swasta agar bisa memperbaiki neraca keuangan dan bisa memiliki modal untuk proyek berikutnya," katanya dalam sebuah diskusi di Financial Club, Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Menurutnya, tak hanya PT Waskita Karya Tbk, BUMN Karya yang lain juga bisa menerapkan pola yang sama. Hanya saja perlu terlebih dahulu berapa aset yang bisa dilepas ke swasta.



"Kemudian cara yang kedua, mendapatkan kontrak berikutnya, menjaga neraca positif," ujarnya.

"Pemerintah harus [dapat kontrak], ini kabar buruk kontraktor swasta, menjaga neraca positif, harus dapat kontrak baru dari pemerintah. jalan keluarnya."

Tim Riset CNBC Indonesia mencatat, mayoritas utang emiten BUMN karya tumbuh lebih dari dua kali lipat selama periode pertama administrasi pemerintahan Jokowi (2015-2018).


BUMN Karya tersebut antara lain, PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Jasa Marga Tbk (JSMR),, PT PP Tbk (PTPP), PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), PT Waskita Karya Tbk (WSKT) 2, PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).






Tahun lalu, WSKT membukukan total utang paling tinggi dengan perolehan mencapai Rp 95,5 triliun, tumbuh hampir 4 kali lipat (363,5%) dibandingkan tahun 2015. Capaian ini menjadi perusahaan mencatatkan pertumbuhan utang tertinggi dibanding 6 emiten karya lainnya.


Lebih lanjut, tingkat utang yang tinggi bukan menjadi persoalan jika dibarengi dengan performa likuiditas yang baik dengan melihat debt-to-equity ratio (DER). DER menunjukkan tingkat utang perusahaan yang dihitung dengan membagi total utang dengan total ekuitas (yang diatribusikan pada pemilik induk).

DER bisa juga menandakan resiko kredit perusahaan, semakin tinggi nilainya maka semakin besar resiko kredit.

Dari tabel di atas terlihat bahwa tahun lalu, emiten karya yang memiliki resiko kredit tertinggi adalah WSKT. Sementara, emiten dengan perolehan DER terendah adalah WSBP.

Selain utang, beban lain yakni dari utang obligasi. 
Melansir data obligasi korporasi dan MTN (surat utang jangka menengah) di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), total obligasi yang dimiliki oleh emiten BUMN Kkrya mencapai Rp 26,66 triliun, dengan batas jatuh tempo ada yang sampai Juni 2027.


(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading