Resesi Menghantui AS, Bursa Saham Asia Limbung

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
15 August 2019 17:37
Resesi Menghantui AS, Bursa Saham Asia Limbung Foto: Shanghai Stock Exchange ( REUTERS/Issei Kato)
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham utama kawasan Asia terlihat limbung pada perdagangan hari ini, Kamis (15/8/2019). Hingga akhir perdagangan, indeks Nikkei di Jepang ambruk 1,21%, sementara indeks Straits Times di Singapura jatuh 0,68%.

Adapun indeks Shanghai justru naik 0,25%, dan indeks Hang Seng juga menguat 0,76%. Untuk diketahui, perdagangan di bursa saham Korea Selatan diliburkan seiring dengan peringatan Liberation Day.

Sentimen negatif bagi pasar saham Benua Kuning datang dari pergerakan di pasar obligasi AS. Pada perdagangan kemarin (14/8/2019), imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 2 tahun sempat melampaui yield obligasi AS tenor 10 tahun. Fenomena ini disebut sebagai inversi.



Pada penutupan perdagangan kemarin, inversi sudah tak terjadi. Namun pada hari ini, inversi kembali terjadi. Inversi yang terjadi kemarin menjadi yang pertama sejak siklus inversi pada akhir 2015 silam.

Melansir data dari Refinitiv, yield obligasi tenor 2 tahun pada hari ini berada di level 1,5649%, sementara yield obligasi tenor 10 tahun berada di level 1,5606%. Yield obligasi tenor 2 tahun mengungguli tenor 10 tahun sebesar 0,4 basis poin (bps).

Untuk diketahui, inversi merupakan sebuah fenomena di mana yield obligasi tenor pendek berada di posisi yang lebih tinggi dibandingkan tenor panjang.

Padahal dalam kondisi normal, yield tenor panjang akan lebih tinggi karena memegang obligasi tenor panjang pastilah lebih berisiko ketimbang tenor pendek.

Terjadinya inversi mencerminkan bahwa pelaku pasar melihat risiko yang tinggi dalam jangka pendek yang membuat mereka meminta yield yang tinggi sebagai kompensasi.

Inversi di pasar obligasi AS menjadi hal yang krusial bagi pasar keuangan dunia lantaran terjadinya inversi merupakan sinyal dari terjadinya resesi di AS di masa depan.

Sebagai informasi, resesi merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang sangat signifikan yang berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, seperti dilansir dari Investopedia. Sebuah perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Terhitung sejak tahun 1978, telah terjadi 5 kali inversi antara tenor 2 dan 10 tahun, semuanya berujung pada resesi. Berdasarkan data dari Credit Suisse yang kami lansir dari CNBC International, secara rata-rata terdapat jeda waktu selama 22 bulan semenjak terjadinya inversi hingga resesi.

Kala AS selaku negara dengan nilai perekonomian terbesar di dunia mengalami resesi, perekonomian global juga akan mendapatkan tekanan yang signifikan.

Di sisi lain, sentimen positif bagi bursa saham Asia datang dari kondisi di Hong Kong yang sudah relatif mendingin. Seperti yang diketahui, dalam beberapa waktu terakhir Hong Kong membara seiring dengan aksi demonstrasi secara besar-besaran.

Demonstrasi yang pada awalnya dipicu oleh penolakan terhadap rancangan undang-undang (RUU) terkait ekstradisi tersebut sudah meluas menjadi demonstrasi untuk menurunkan pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam.

Pada hari Senin (12/8/2019), para demonstran menggelar aksinya di Bandara Internasional Hong Kong yang merupakan salah satu bandara tersibuk di dunia.

Pihak bandara pada akhirnya dipaksa untuk membatalkan seluruh penerbangan mulai dari sore hari lantaran banyaknya massa yang menyemut untuk melakukan aksi demonstrasi di sana.  Kemudian pada Selasa sore (13/8/2019), Bandara Internasional Hong Kong menghentikan proses check-in untuk penerbangan keberangkatan yang tersisa di hari itu.

Pada hari ini, situasi di Hong Kong relatif dingin: bandara beroperasi secara normal. Namun perlu diingat, The Civil Human Rights Front selaku kelompok yang telah mengorganisir beberapa aksi demonstrasi besar-besaran di Hong Kong mengatakan bahwa pihaknya akan kembali menggelar aksi demonstrasi pada hari Minggu (18/8/2019).

TIM RISET CNBC INDONESIA

(ank/ank)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading