Setiap Kali Ada Resesi, Benarkah Harga Emas Naik?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
15 August 2019 15:44
Foto: [Tak Hanya Logam Mulia, Perhiasan Saat Ini Banyak Diburu Warga Untuk Investasi.(CNBC Indonesia)
Jakarta, CNBC Indonesia - Setelah anjlok tajam pada perdagangan Selasa (13/8/19), harga emas dunia di pasar spot kembali melesat naik pada perdagangan Rabu kemarin, dan berlanjut pada pagi ini, Kamis (15/8/19). Munculnya isu resesi di AS kembali menjadi pemicu kenaikan harga emas.

Inversi yield obligasi AS menjadi penyebab menguatnya kembali isu resesi. Inversi merupakan keadaan di mana yield atau imbal hasil obligasi tenor pendek lebih tinggi daripada tenor panjang. Dalam situasi normal, yield obligasi tenor pendek seharusnya lebih rendah.

Inversi menunjukkan bahwa risiko dalam jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang. Oleh karena itu, inversi kerap dikaitkan dengan pertanda resesi.


Inversi terjadi pada yield obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 2 tahun dengan tenor 10 tahun. Ini adalah inversi pertama untuk dua tenor tersebut sejak Juni 2007, atau beberapa bulan sebelum meletusnya krisis keuangan global.


Data dari Credit Suisse menunjukkan sejak tahun 1978 terjadi lima kali inversi yield Trasury tenor 2 tahun dan 10 tahun dan semuanya merupakan awal terjadinya resesi. Rata-rata resesi akan terjadi 22 bulan setelah inversi tersebut muncul, sebagaimana dikutip CNBC International.

Emas merupakan aset aman atau safe haven, ketika terjadi resesi maka aset-aset safe haven menjadi incaran para investor untuk mengamankan kekayaannya. Kali terakhir terjadi resesi di AS pada tahun 2008-2009 harga emas memang tercatat penguat, bahkan pada akhirnya mencapai rekor tertinggi US$ 1.920 per troy ons pada bulan September 2011.

Untuk melihat bagaimana kinerja emas saat Negeri Paman Sam mengalami resesi, lima resesi sebelumnya bisa menjadi contoh. Berdasarkan laporan The Balance, lima resesi AS terjadi pada tahun 1973-1975, 1980-1982, 1990-1991, 2001, dan 2008-2009. 

Berdasarkan data yang diambil dari Refinitiv, berikut pergerakan logam mulia kala perekonomian AS merosot.



Dalam lima resesi tersebut, harga emas menguat di empat resesi, bahkan mengalami kenaikan signifikan pada periode 1973-1975 sebesar 79,04%.

Pada periode 1980-1981, AS sebenarnya mengalami dua kali resesi, yakni di semester I-1980 dan pada periode Juli 1981-November 1982. Pada resesi pertama harga emas melesat 27,54%, dan yang kedua 2,3%.

Harga logam mulia menunjukkan kinerja negatif ketika mengalami resesi pada 1990-1991, yakni -4,23%.


Pada dua resesi selanjutnya 2001 dan 2008-2009 emas menguat masing-masing 2,68% dan 5,35%. Dan sejak memasuki abad milenium ini harga emas mengawali reli panjang selama satu dekade, total kenaikan harga emas saat itu mencapai 605%.

Berkaca dari pergerakan tersebut, emas bisa dikatakan memang menguat ketika AS mengalami resesi. Jika benar AS akan mengalami resesi dalam 22 bulan ke depan, maka harga emas bisa melesat lebih tinggi lagi, bahkan mungkin mendekati lagi rekor tertinggi.

Perlu diketahui, kenaikan harga emas dalam tulisan ini hanya melihat masa resesi di AS, tidak membandingkan faktor-faktor lain seperti kebijakan moneter bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed)

(BERLANJUT KE HALAMAN 2)
(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading