Biodiesel RI Kena Bea Masuk, Uni Eropa Bikin Akal-akalan Lagi

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
14 August 2019 10:45
Biodiesel RI Kena Bea Masuk, Uni Eropa Bikin Akal-akalan Lagi Foto: Menteri Pertanian Amran Sulaiman melakukan pengisian bahan bakar biodiesel B100 di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (15/4/2019). Biodiesel yang berasal dari Crude Palm Oil (CPO) ini harapannya dapat dipergunakan secara umum di masyarakat. (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)
Jakarta, CNBC Indonesia - Uni Eropa mengenakan tarif Bea Masuk Anti-Subsidi (BMAS) terhadap produk biodiesel Indonesia pada hari ini, Rabu (14/8/2019). Artinya, harga biodiesel akan menjadi lebih mahal dibanding minyak nabati lainnya di pasar eropa.

Menyikapi hal tersebut, pengusaha sudah mengambil ancang-ancang. Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Master P Tumanggor mengatakan isu BMAS sering menjadi pembahasan pengusaha sawit Indonesia.


Oleh Karena itu, Tumanggor tidak terlalu kaget ketika UE menetapkan BMAS produk biodiesel RI lebih awal dari rencana Septmeber 2019.


"Pemerintah sedang menyiapkan B30, kita akan memakainya untuk pasar domestik," kata Tumanggor kepada CNBC Indonesia, Selasa (13/8/2019).

Menurutnya, 9 subsidi yang dituduhkan UE terkesan dipaksakan untuk diterapkan pada BMAS biodiesel RI. "Menurut hemat kami, 9 subsidi itu adalah akal-akalan mereka, lalu mulai menginvestigasi," katanya.


Sebelumnya pembahasan penerapan B30 pernah dibahas Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas di Kantor Presiden. Ia meminta penggunaan B20 bisa ditingkatkan menjadi B30 pada Januari tahun depan dan B50 di akhir 2020, Senin (12/8/2019).

"Saya ingin agar B20 nanti pada Januari 2020 itu sudah pindah ke B30, dan selanjutnya nanti di akhir 2020 sudah meloncat lagi ke B50," kata Jokowi.

Keinginan Jokowi tak lepas dari upaya memitigasi langkah diskriminasi yang dilakukan Uni Eropa terhadap produk kepala sawit Indonesia. Diskriminasi tersebut mengancam ekspor kelapa sawit yang selama ini menjadi andalan untuk menopang perekonomian. (hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading