Harga Saham Anjlok 23%, Seperti Apa Kinerja BJB Sejak 2019?

Market - Anthony Kevin, CNBC Indonesia
09 August 2019 08:39
Harga Saham Anjlok 23%, Seperti Apa Kinerja BJB Sejak 2019? Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki
Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2019 menjadi tahun yang kelam bagi saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR). Sepanjang tahun ini (hingga penutupan perdagangan kemarin, 8/8/2019), harga saham Bank BJB sudah anjlok hingga 22,68%, dari Rp 2.050/unit menjadi Rp 1.585/unit.

Seiring dengan ambruknya harga saham perusahaan, kapitalitasasi pasarnya pun terpangkas dengan begitu signifikan. Melansir publikasi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), per akhir 2018 Bank BJB memiliki kapitalisasi pasar senilai Rp 19,68 triliun. Per akhir perdagangan kemarin, melansir data RTI, kapitalisasi pasar Bank BJB hanya tersisa Rp 15,59 triliun.

Dalam waktu tujuh bulan lebih sedikit, kapitalisasi pasar dari bank yang dinahkodai oleh Yuddy Renaldi tersebut menguap hingga Rp 4,09 triliun.



Untuk diketahui, sejauh ini ada tiga Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang melantai di BEI, termasuk Bank BJB. Dua lainnya adalah PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM).

Sepanjang tahun 2019, harga saham BEKS tertidur di level Rp 50/unit. Sementara itu, harga saham BJTM juga membukukan koreksi seperti BJBR, namun koreksinya jauh lebih kecil. Sepanjang tahun 2019, harga saham BJTM tercatat melemah 7,97%, dari Rp 690/unit menjadi Rp 635/unit.

Jadi, kalau dari kinerja harga sahamnya, praktis Bank BJB menjadi BPD dengan kinerja terburuk di tahun 2019.


Faktor fundamental menjadi alasan utama di balik ambruknya harga saham Bank BJB di sepanjang tahun 2019. Teranyar, belum lama ini tepatnya pada tanggal 25 Juli 2019, perusahaan merilis kinerja keuangan periode semester I-2019.

Hasilnya, laba bersih perusahaan tercatat ambruk hingga 11,2% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp 803 miliar. Pada semester I-2018, laba bersih perusahaan adalah senilai Rp 903 miliar.


Ambruknya pendapatan bunga bersih/net interest income (NII) membuat bottom line perusahaan meringis. Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, NII BJBR jatuh hingga 6,4% YoY menjadi Rp 2,97 triliun, dari yang sebelumnya Rp 3,17 triliun pada enam bulan pertama tahun lalu.

Kala sumber pendapatan utama yakni NII tak bisa diandalkan, pendapatan non-bunga perusahaan juga sama saja. Pada semester I-2019, fee-based income Bank BJB tercatat senilai Rp 436 miliar. Pada semester I-2018, nilainya adalah Rp 435 miliar. Ada kenaikan memang, tetapi hanya 0,1%.

Melansir materi presentasi yang dipublikasikan Bank BJB di halaman resminya, pada kuartal I dan II-2019 marjin bunga bersih/net interest margin (NIM) dari unit perbankan berada masing-masing di level 5,9% dan 5,7%. Ada penurunan yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan posisi NIM pada kuartal I dan II-2018 yang masing-masing sebesar 6% dan 6,3%.


Wajar saja jika NII perusahaan jatuh 6% lebih pada semester I, wong NIM perusahaan mengkerut. Sebagai informasi, NIM merupakan selisih dari bunga yang didapatkan perbankan dengan bunga yang dibayarkan kepada nasabah, dibagi dengan total aset yang menghasilkan bunga. Semakin besar NIM, maka tingkat profitabilitas sebuah bank akan semakin besar.

Bahkan, tak berlebihan jika NIM dikatakan sebagai 'nyawa' dari operasional sebuah bank. Dengan NIM yang lebih besar, sebuah bank bisa mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi kala menyalurkan kredit dalam besaran yang sama.

Untuk diketahui, perusahaan menargetkan besaran NIM di level 6%-6,5%. Lantas, ambruknya NIM pada enam bulan pertama tahun 2019 praktis menjadi tamparan bagi manajemen perusahaan.

Ketika NIM mengkerut, penyaluran kredit Bank BJB juga terasa kurang bergairah. Sepanjang semester I-2019, penyaluran kredit unit perbankan hanya tumbuh 8,2% secara tahunan. Untuk diketahui, melansir Statistik Perbankan Indonesia (SPI) periode Mei 2019 yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran kredit bank umum konvensional kepada pihak ketiga non-bank melejit hingga dua digit secara tahunan, tepatnya 11,1%.

TIM RISET CNBC INDONESIA (ank/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading