China Stop Beli Produk Pertanian AS, Harga CPO Tersungkur

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
06 August 2019 12:28
China Stop Beli Produk Pertanian AS, Harga CPO Tersungkur
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) tergelincir dari posisi tertinggi dalam 2 minggu akibat pelemahan harga kedelai kemarin. Eskalasi perang dagang Amerika Serikat (AS)-China membuat harga-harga komoditas agrikultur Negeri Adidaya berjatuhan.

Pada perdagangan hari Selasa (6/8/2019) pukul 11:00 WIB, harga CPO kontrak pengiriman Oktober di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (BMDEX) melemah 0,33% ke level MYR 2.084/ton.

Sehari sebelumnya, harga CPO ditutup melesat 1,5% di posisi MYR 2.093/ton yang merupakan tertinggi dalam 2 minggu terakhir.




Seperti yang telah diketahui, Presiden AS, Donald Trump, telah mengumumkan akan mengenakan bea impor sebesar 10% atas produk asal China senilai US$ 300 miliar mulai 1 September 2019.

Sesuai dugaan, China pun akhirnya mengonfirmasi serangan balasan terhadap keputusan tersebut.

Juru bicara Kementerian Perdagangan China mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan asal negaranya telah menghentikan pembelian produk-produk agrikultus asal AS, seperti dikutip dari Reuters.

China merupakan salah satu pembeli terbesar produk-produk agrikultur AS, yang salah satunya adalah kedelai.

Kala pembelian dari AS terhenti, maka akan ada banyak kedelai yang tidak terjual di AS. Akhirnya inventori kedelai meningkat dan membuat harganya jatuh.

Tak heran kemarin (5/8/2019) harga minyak kedelai di bursa Chicago Board of Trade (CBOT) anjlok hingga 1,59%.

Di pasar sawit, harga minyak kedelai punya pengaruh yang cukup besar. Pasalnya kedua produk tersebut (minyak sawit dan kedelai) merupakan substitusi satu sama lain.

Hampir seluruh fungsi minyak sawit dapat digantikan oleh minyak kedelai. Keduanya bersaing untuk mendapatkan bagian di pasar minyak nabati global.

Alhasil pergerakan harga minyak kedelai akan memiliki pengaruh yang searah terhadap pergerakan minyak sawit.

Selain itu, hara komoditas juga mendapat tekanan dari risiko perang mata uang (currency war) yang disinyalir tengah berlangsung.

Hal itu terjadi sebelum sesi perdagangan kemarin dibuka, dimana Bank Sentral China (People Bank of China/PBOC) menetapkan nilai tengah mata uangnya di level CNY 6,922/US$ yang merupakan terendah sejak 3 Desember 2018.

Sementara pada akhir perdagangan kemarin kurs yuan ditutup pada level CNY 7,03/US$ yang merupakan posisi paling lemah sejak Maret 2008.

Di China, pergerakan nilai mata uang tidak murni hanya karena mekanisme pasar. PBOC punya wewenang untuk menetapkan nilai tengah mata uang yuan di setiap sesi perdagangan. Dengan cara tersebut, otoritas moneter dapat mengatur batas pergerakan mata uangnya.

Ada kemungkinan hal itu dilakukan untuk memperkuat ekspor China. Karena ketika yuan melemah, harga produk-produk asal Negeri Tirai Bambu menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Alhasil harga ekspor akan lebih kompetitif di pasar global.

Jadi walaupun sulit masuk ke AS karena ada bea impor yang tinggi, barang-barang 'murah' asal China akan lebih mudah menembus pasar di negara-negara lain.

Beberapa analis bahkan memperkirakan pelemahan yuan akan terus berlanjut dan menembus level CNY 7,3/US$, seperti dikutip dari Reuters.

Ada risiko dimana negara-negara lain turut bertendensi melemahkan mata uang seperti yang dilakukan China.

Kondisi yang sedemikian rupa tidak baik bagi perdagangan internasional karena menyebabkan persaingan devaluasi.

TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading