Gagal Bayar, Benarkah Duniatex Perusahaan Tekstil Terbesar?

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
03 August 2019 08:22
Gagal Bayar, Benarkah Duniatex Perusahaan Tekstil Terbesar?
Jakarta, CNBC Indonesia - Grup Duniatex sedang dirundung masalah. Kredit bank dan kupon obligasi beberapa anak perusahaan tekstil terbesar di Indonesia dinyatakan gagal bayar, atau minimal belum membayar cicilan pokok-bunga (missed payment) utangnya.

Statusnya sebagai perusahaan manufaktur tekstil terintegrasi dengan kapasitas terbesar di Indonesia, yang diungkapkan Euromonitor pada 2018 terkait dengan industri tekstil, tentu menjadi magnet bagi siapapun. Benarkah dia merupakan perusahaan tekstil terintegrasi terbesar di bumi Indonesia?

Status terbesar dapat ditemukan di dalam prospektus penawaran (offering memorandum/OM) surat utang global salah satu perusahaan Duniatex yaitu PT Delta Merlin Dunia Tekstil (DMDT), yang memasukkan status perseroan berdasarkan laporan Euromonitor edisi 30 September 2018.  Obligasi itu berdenominasi dolar AS senilai US$ 300 juta dan diketahui mengalami kelebihan permintaan hingga US$ 1 miliar. 



Pernyataan tentang status perusahaan tekstil terbesar tersebut diulang lagi dalam laporan kredit (credit report) DMDT yang terbit pada 25 Juli dan  sudah tersebar di dunia maya. Riset itu juga membahas obligasi DMDT yang dinyatakan sudah gagal bayar melunasi kuponnya. 

Dari sisi ukuran, Duniatex memang perusahaan yang lebih besar dibandingkan dengan catatan aset perusahaan tekstil asal Solo lain, yaitu PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL). 

Aset Duniatex yang terdiri dari enam perusahaan utama memang bukan tandingan bahkan bagi gabungan dari SRIL dan emiten tekstil lain di bursa yaitu PT Pan Brothers Tbk (PRBX) sekalipun. Satu lagi perusahaan tekstil yang lumayan besar dan tercatat di bursa adalah PT Indorama Synthetics Tbk (INDR). 

Kelompok usaha tekstil terbesar di Solo tersebut beraset Rp 37,85 triliun pada tahun lalu, sedangkan aset SRIL, INDR, dan PBRX masing-masing hanya US$ 1,36 miliar (Rp 19,76 triliun), US$ 805 juta (Rp 11,66 triliun), dan US$ 579 juta (Rp 8,39 triliun) pada periode yang sama. 

Dari sisi produksi, OM surat utang global DMDT juga menunjukkan karyawan grup usahanya lebih dari 50.000 orang dengan tiga lini bisnis dasar industri tekstil. 

Ketiganya adalah bidang pemintalan (spinning) atau proses membuat benang dan serat dari kapas atau bahan sintetis, bisnis penenunan (weaving) atau proses mengolah benang menjadi kain, dan bidang pemintalan (spinning) atau proses membuat benang dan serat dari kapas atau bahan sintetis. Lini bisnis terakhir dari Duniatex adalah bisnis pencelupan-pewarnaan (dyeing) dan bisnis hilir produk akhir (finishing).  

Bisnis spinning Duniatex dikerjakan oleh PT Delta Dunia Tekstil (DDT) dan PT Delta Merlin Sandang Tekstil (DMST) yang sama-sama didirikan pada 2006. Satu perusahaan spinning Duniatex lain adalah PT Delta Dunia Sandang Tekstil (DDST) yang didirikan pada 2010.  

Lini bisnis pemintalan memiliki 1,64 juta gelendong (spindles/alat pemintal kapas menjadi benang) dengan kapasitas produksi maksimal 568.000 ton benang per tahun. 

Berdasarkan credit report DMDT lembaga asing swasta tadi, pabrik spinning Duniatex dinyatakan terdiri dari 10 unit pabrik yang terdiri dari tiga unit milik DMST dengan kapasitas produksi 210.000 ton, 4 unit milik DDT berkapasitas 192.000 ton, dan 3 unit milik DDST yang berkapasitas 166.000 ton per tahun. 

Bisnis weaving Duniatex digarap oleh Delta Merlin Dunia Tekstil (DMDT), si penerbit obligasi global dengan dukungan 11.904 alat tenun (weaving loom) dan angka produksi 928,7 juta meter kain mentah (greige). 


Pabrik weaving Duniatex terdiri dari delapan pabrik milik DMDT yang tersebar di Karanganyar, Boyolali, Desa Pondok, Sukoharjo, dan Sragen dengan rata-rata utilisasi 76%. 

Terakhir, bisnis dyeing dan finishing Duniatex dieksekusi oleh PT Perusahaan Dagang dan Perindustrian Damai (Damaitex) yang diambil alih Duniatex pada 1992, serta PT Dunia Setia Sandang Asli (DSSA). Produksi tahunan dari tiga pabrik Duniatex adalah 234 juta meter kain. 

Foto: Arie Pratama


Sayangnya, integrasi kelompok usaha Duniatex yang terlalu baik justru menyebabkan ketergantungan bisnis keenam perusahaannya terhadap suplai maupun penjualan produknya, terutama DMDT yang seluruh bahan mentah benangnya berasal dari 'saudaranya' di Duniatex yaitu DDT, DMST, dan DDST. Faktor penentu lain adalah Duniatex belum memiliki bisnis pakaian jadi atau garmen.

Alasan perseroan terhadap penyebab gagal bayar obligasi yaitu masuknya produk tekstil dari China tentu menekan kinerja perseroan, terlebih riset yang sama juga menunjukkan bahwa 90% pangsa pasar penjualan produk perseroan adalah pasar domestik dalam negeri. 

Dengan jenis produk yang masih bahan mentah, tentunya invasi produk bahan mentah tekstil dari China yang umumnya lebih murah akan membuat bisnis Duniatex tertekan lebih dalam.

Porsi penjualan ekspor Duniatex pun hanya 10%, yang terdiri dari Turki 5% dan sisanya 5% yang lain terbagi ke Thailand, Spanyol, dan China.
 

Jika dibandingkan dengan pelaku industri tekstil lain, porsi ekspor Duniatex yang kecil tercermin dari laporan keuangan perseroan yang masih menggunakan mata uang rupiah sedangkan pelaku industri lain sudah menggunakan denominasi dolar AS. Laporan keuangan SRIL menunjukkan pangsa ekspor perseroan mencapai 60,3%, INDR 65,23%, dan PBRX 95,9%.  

Dengan kata lain, tidak dimilikinya bisnis garmen, pangsa ekspor yang kecil, masuknya barang murah dari China, serta menguatnya dolar AS dapat membuat keuangan Duniatex yang terbebani utang besar semakin tertekan jika tidak ada perubahan di perusahaan atau di tingkat industri.  

Semoga saja, arah angin industri tekstil bisa lebih tenang dan bersahabat untuk Duniatex dan pelaku industri lainnya.    


TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]


(irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading