Dikabarkan Gagal Bayar, Seperti Ini Sepak Terjang Duniatex

Market - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
24 July 2019 13:21
Duniatex salah satu grup usaha tekstil terbesar di Indonesia, dikabarkan mulai mengalami gagal bayar atas kewajiban utang.
Jakarta, CNBC Indonesia- PT Delta Merlin Dunia Textile (Duniatex), salah satu grup usaha tekstil terbesar di Indonesia, dikabarkan mulai mengalami gagal bayar atas kewajiban utang. Prahara ini khususnya dialami perusahan terafiliasi, PT Delta Dunia Sandang Tekstil (DDST) atas kewajiban pembayaran utang senilai US$ 260 juta.

Hal tersebut membuat S&P menurunkan rating Duniatex menjadi CCC- atau setara dengan junk bond (obligasi sampah).

Kabar ini jelas membuat kaget kalangan industri. Apalagi grup usaha ini memiliki utang triliunan ke sejumlah bank besar dalam negeri.


Sebenarnya siapakah Duniatex dan bagaimana sepak terjangnya selama ini?



Kisah awal grup usaha ini bermula dari CV Duniatex yang berdiri 45 tahun yang lalu atau sekitar 1974 di Surakarta. Perusahaan tekstil ini dirintis oleh Hartono dan istrinya Indriyati dan fokus pada industri finishing tekstile.

Pada tahun 1992, Duniatex mengambil alih PT. Damaitex berlokasi di Semarang yang beroperasi di industri finishing. Selanjutnya, Duniatex memperluas operasi tenunnya pada tahun 1998 dengan mendirikan PT Dunia Sandang Abadi dan PT Delta Merlin Dunia Tekstil.

Pada tahun 2003, Duniatex mendirikan PT Delta Merlin Sandang Tekstil dan PT Delta Dunia Tekstil pada tahun 2006, disusul dengan pendirian PT. Delta Dunia Sandang Tekstil pada tahun 2010.

Berdasarkan situs resmi perusahaan, grup Duniatex saat ini terdiri dari 18 perusahaan terbatas, tersebar di beberapa lokasi di lebih dari 150 hektar lahan. Grup Duniatex juga telah memiliki 40.000 pekerja dengan kapsitas enam ratus juta meter kain setiap tahun,

Pendiri Duniatex, Hartono sudah tiada, sepak terjangnya dilanjutkan oleh keturunannya yaitu Sumitro. Nampaknya buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sebab, darah bisnis mengalir dari Hartono kepada anaknya, Sumitro Hartono.

Pengusaha asal Solo ini tak hanya memegang tampuk bisnis Duniatex, namun juga melebarkan sayap di dunia properti. Di antaranya membangun hotel dan juga pusat perbelanjaan.

Melalui Hartono Mal, mungkin orang mengira jika pusat perbelanjaan tersebut identik dengan Djarum Group. Nyatanya, pusat perbelanjaan ini dibuat untuk mengenang Hartono, ayah Sumitro yang tak lain adalah pendiri dari Duniatex.

Hartono Mall pertama didirikan di Solo Baru, Sukoharjo pada 2012, sementara uang kedua di Yogyakarta pada 2015. Sumitro juga memiliki beberapa hotel, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta, seperti The Alana Solo, Best Western Solo, dan Marriot Yogyakarta.

Tak sampai di situ, untuk mengenang mendiang ibunya, Indriyati, Sumitro Hartono juga mendirikan sebuah Rumah Sakit bertaraf Internasional di Solo Baru. RS Indriati, begitulah rumah sakit itu disebut.


Kisah kesuksesan Duniatex pun tak mulus. Perusahaan tekstil ini pernah berseteru dengan PT Sri Isman Rejeki (Sritex), asal Sukoharjo, Jawa Tengah. Asal muasalnya adalah benang kuning di pinggir kain yang telah dipatenkan oleh Sritex. Pada 2011, Sritex pun menggugat Duniatex karena membuat kain yang mirip dengan yang telah dipatenkan sebelumnya.

Kini Duniatex disebut-sebut mengalami prahara baru yang membuat kaget dunia persilatan tekstil dan industri perbankan. Apakah Duniatex bisa menyelesaikan masalah ini?

Kita tunggu saja!

Update: Redaksi meralat berita bahwa Hartono Elektronika memiliki hubungan dengan Duniatex.  Untuk itu kami meminta maaf. Terima kasih


(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading