Kasus Hukum di Singapura Belum Kelar, Saham Bayan Minus 14%

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
12 July 2019 16:12
Kasus Hukum di Singapura Belum Kelar, Saham Bayan Minus 14%
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga saham emiten tambang PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sepanjang tahun hingga Jumat ini (12/7/2019) atau year to date minus 13,71% di level Rp 17.150/saham, dengan catatan jual bersih investor asing di pasar tunai dan negosiasi mencapai Rp 479 miliar.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, dalam 3 bulan perdagangan terakhir, saham BYAN juga minus 9,26%, sementara selama sepekan terakhir hanya naik tipis 0,29%.

Pada penutupan Jumat ini, saham Bayan ditransaksikan sepi, hanya sebesar Rp 1,72 juta dengan volume 100.000 saham.


Sepinya transaksi saham Bayan terjadi di tengah kinerja perusahaan yang tertekan pada kuartal I-2019. Selain itu, perseroan juga terpapar kasus hukum di negeri jiran Singapura yang sampai saat ini belum berkesudahan. Kasus hukum juga masih akan berlanjut hingga 2020 mendatang.


Direktur Utama Bayan Resources Dato' Dr Low Tuck Kwong dan Direktur Jenny Quantero dalam suratnya kepada BEI pada Jumat ini menyampaikan kabar kasus hukum yang 
menimpa perusahaan yakni perkasa hukum perseroan dengan pemegang saham PT Kaltim Supacoal (KSC), anak usaha patungan perseran dengan BCBC Singapore Pte Ltd.

Dalam surat tersebut, diungkapkan bahwa dalam
kasus hukum antara perseroan dengan Binderless Coal Briquetting Company Pte Limited, BCBC, dan White Energy Company Limited yang sampai saat ini sedan berlangsung, Bayan sudah mengambil langkah banding di Singapore Court of Appeal (SCA) atas keputusan yang dikeluarkan Singapore International Commercial Court (SICC) dalam persidangan.

Pada 10 Juli 2019, SCA telah melaksanakan sidang, tapi hasilnya yakni SCA menolak permohonan banding tersebut, sehingga kasus hukum ini akan berlanjut ke sidang selanjutnya atau tahap ketiga di SICC.

"Pelaksanaan sidang selanjutnya atau tahap ketiga ini diperkirakan akan berlangsung pada 2020. Perseroan akan terus mempertahankan posisinya pada persidangan tersebut," tulis Dato' dan Jenny dalam suratnya.

"Saat ini perseroan yakin bahwa tidak ada dampak material yang terjadi atas kegiatan operasional dan kondisi keuangan perseroan, karena mempertahankan status quo sebagai akibat dari keputusan SICC pada sidang tahap sebelumnya."

Kasus hukum ini tidak diungkapkan secara detail pada surat tersebut, tapi pada keterbukaan di BEI pada 26 Juli 2017, disebutkan kasus ini bermula dari tudingan pelanggaran memasok batu bara.

Selain perkara hukum, Bayan juga masih harus berbenah di tengah kinerja yang turun.

Pada kuartal I-2019, perusahaan mencatatkan penurunan total pendapatan 10,44% year-on-year (YoY) menjadi US$ 365,42 juta atau setara Rp 5,15 triliun (asumsi kurs Rp 14.100/US$). Padahal pada kuartal I-2018, pemasukan perusahaan mencapai US$ 408 juta atau setara Rp 5,75 triliun. 

Laba juga amblas menjadi US$ 84,23 juta dari sebelumnya US$ 122 juta.


(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading