Emiten Ritel Dilibas E-Commerce, Siapa Berkinerja Terbaik?

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
11 July 2019 17:33
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri perdagangan daring (e-commerce) semakin menggeliat. Terlebih lagi setelah beredar informasi bahwa barang-barang impor asal China yang di jual di platform e-commerce beberapa tidak dikenai biaya ongkos kirim (ongkir).

Hal tersebut tentunya semakin mendorong konsumen untuk beralih dari berbelanja di toko offline ke daring. Toko daring juga mempunyai kelebihan lain, yaitu masih terhindar dari pembayaran pajak--hingga saat ini.

Pasalnya, aturan pajak yang diinisiasi Kementerian Perdagangan sejak awal tahun masih belum ketok palu. Beleid yang dimaksud ialah Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (RPP E-Commerce).


Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita juga mengatakan pembahasan RPP E-Commerce ini cukup pelik karena melibatkan banyak sekali kementerian dan pemangku kepentingan (stakeholders).

Persaingan Tidak Sehat, Ritel Lokal Dilibas E-CommerceFoto: Muhammad Sabki

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tatum Rahanta pun buka suara. Dia mengatakan dirinya tidak mempermasalahkan terkait barang impor di platform e-commerce, tapi lebih menitikberatkan pada fairness (keadilan).


"Saya tidak mempermasalahkan impor atau tidak impor. Yang saya masalahkan adalah keadilan di persaingan. Apapun yang dijual dan beredar di Indonesia itu harus sama-sama bayar pajak, mengurus SNI, BPOM," kata Tatum kepada CNBC Indonesia, Kamis (11/7/2019).

Merajalelanya pemain di industri perdagangan daring dan persaingan yang tidak adil dengan peritel lokal, tentunya berdampak buruk pada kinerja pemain-pemain lama.

Sebagai contohnya, beberapa minggu lalu masyarakat dihebohkan dengan diskon besar-besaran pada 6 jaringan ritel Giant Supermarket (Giant). Ternyata diskon diberikan karena PT Hero Supermarket Tbk (HERO), pengelola Giant, akan menghentikan operasi keenam toko tersebut per 28 Juli 2019. Sebelumnya, HERO juga telah menutup 26 gerai Giant per tahun 2018.

Tidak hanya HERO, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS), PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), dan PT Mitra Adi Perkasa Tbk (MAPI) juga menutup sejumlah gerainya.

MAPI bahkan menutup beberapa gerai brand department store ternama seperti Lotus Department Store, Debenhams, dan New Look.

Lalu, bagaimana kinerja ritel lokal di tahun ini dengan serbuan e-commerce?


YUK KE HALAMAN 2 >>> (dwa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading