
Benarkah Pertemuan Trump-Xi Picu Harga Emas Hari Ini Turun?
Houtmand P Saragih & Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
27 June 2019 16:05

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat ini fokus kebanyakan investor di pasar keuangan adalah isu hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dengan China. Namun, isu tersebut turut mempengaruhi pergerakan harga di pasar komoditas emas.
Pasalnya, kala investasi pada instrumen berisiko (seperti saham) sedang tidak kondusif, emas seringkali dijadikan sebagai pelindung nilai (hedging) untuk menghindari kerugian yang besar.
Contohnya sejak Presiden AS, Donald Trump, menaikkan bea impor produk China senilai US$ 200 miliar menjadi 25% (dari yang semula 10%) pada 13 Mei 2019, harga emas telah naik 8,01% hingga saat ini (Kamis, 27/6/2019).
Sepanjang periode tersebut, Trump juga berkali-kali mengancam akan mengenakan bea impor 25% pada produk China lain senilai US$ 300 miliar.
Kondisi tersebut menyisakan satu hal yang menjadi musuh utama investor, yakni ketidakpastian.
Bisa jadi perang dagang tereskalasi dengan implementasi tarif baru. Bisa juga tidak.
Masalahnya, dua skenario tersebut berpotensi menyebabkan dua kondisi perekonomian yang sangat berbeda.
Bila perang dagang makin panas?
Beberapa analis memperkirakan ekonomi global akan tenggelam ke dalam resesi bila benar Trump mengenakan tarif baru. Karena China pasti akan mengambil lah serupa. Perang tarif akan berkecamuk pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Peluang bahwa kita akan mengalami resesi global akan meningkat bila tidak ada penurunan ketegangan antara AS dan China," kata Peter Boockvar, chief investment strategist di Bleakly Advisory Group, dilansir dari CNBC International.
"(Jika perang dagang memanas) kami memperkirakan pertumbuhan global akan menjadi 75 basis poin lebih rendah dalam enam kuartal ke depan - seukuran dengan krisis di zona euro, anjloknya harga minyak pada pertengahan 1980an, dan krisis 'Tequila' di 1990an," tulis kepala riset ekonomi global UBS Arend Kapteyn dalam sebuah catatan riset.
Tidak hanya resesi global, eskalasi perang dagang juga akan menambah alasan The Fed untuk memangkas suku bunga acuan lebih banyak lagi. Sebab, tanpa pelonggaran moneter yang memadai, resesi akan mengancam pertumbuhan ekonomi bahkan berisiko menyebabkan krisis.
Sebagai informasi, saat ini ada kemungkinan sebesar 44% dimana The Fed memangkas suku bunga tiga kali (75 basis poin) hingga akhir tahun 2019. Kalau perang dagang makin dahsyat, The Fed punya ruang lebih untuk memangkas suku bunga.
Dampak Ganda
Di satu sisi, resesi global merupakan iklim investasi yang buruk. Daya tarik emas sebagai instrumen hedging pun meningkat. Permintaan naik, harga juga terdongkrak.
Di sisi lain, penurunan suku bunga The Fed kemungkinan besar akan membuat dolar AS melemah karena likuiditas yang membuncah. Alhasil harga emas menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang selain dolar. Lagi-lagi, permintaan emas berpotensi meningkat dan mengerek harganya. Siapa yang bisa menolak barang bagus yang murah?
Kapan Damai Dagang Terwujud?
Sedangkan bila ada kesepakatan, dan eskalasi perang dagang bisa ditunda, atau bahkan dihilangkan, setidaknya risiko memburuknya ekonomi global bisa dihindari. Apalagi bila perkembangannya terus positif. Kondisi ekonomi bisa membaik sehingga risiko investasi terkikis.
Investor pun akan berbondong-bondong kembali agresif masuk ke pasar keuangan. Emas yang menghasilkan keuntungan minim pun ditinggalkan dan membuat harganya tertekan.
Selain itu penurunan suku bunga The Fed akan semakin terbatas. Menyebabkan kekuatan dolar tak jatuh terlalu dalam. Harga emas jadi tidak terlalu murah bagi pemegang mata uang selain dolar.
Pertemuan Trump-Xi Jadi Kunci
Karena itu, pertemuan Trump dan Xi di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada akhir pekan ini bisa menjadi momen kunci penentu arah gerak harga emas ke depannya.
Trump sudah berencana akan mengenakan bea masuk 25% pada produk China senilai US$ 300 miliar bila tidak ada kesepakatan yang dihasilkan pada pertemuan tersebut.
"Saya akan mengenakan tarif tambahan. tarif tambahan yang sangat substansial, jika itu [dialog] tidak berhasil, jika kami tidak membuat kesepakatan," ujar Trump, mengutip Reuters.
Namun mengingat pertemuan tersebut akan berlangsung hari Sabtu (29/6/2019), sentimen yang dihasilkan baru akan berdampak di hari Senin (1/7/2019). Sebab pasar emas global tutup di hari Sabtu dan Minggu.
Sementara menunggu pertemuan tersebut, harga emas diperkirakan akan stabil pada kisaran harga saat ini. Pun ada perubahan, tidak akan terlalu besar.
Sebagai informasi pada perdagangan hari Kamis (27/6/2019) pukul 15:30 WIB, harga emas kontrak pengiriman Agustus di bursa New York Commodity Exchange (COMEX) terkoreksi 0,6% ke level US$ 1.406/troy ounce. Sedangkan harga emas di pasar spot melemah 0,33% menjadi US$ 1.403,72/troy ounce.
Pada posisi tersebut, harga emas masih berada di dekat posisi tertinggi sejak enam tahun terakhir.
TIM RISET CNBC INDONESIA
(taa) Next Article Emas, How High Can You Fly
Pasalnya, kala investasi pada instrumen berisiko (seperti saham) sedang tidak kondusif, emas seringkali dijadikan sebagai pelindung nilai (hedging) untuk menghindari kerugian yang besar.
Contohnya sejak Presiden AS, Donald Trump, menaikkan bea impor produk China senilai US$ 200 miliar menjadi 25% (dari yang semula 10%) pada 13 Mei 2019, harga emas telah naik 8,01% hingga saat ini (Kamis, 27/6/2019).
Sepanjang periode tersebut, Trump juga berkali-kali mengancam akan mengenakan bea impor 25% pada produk China lain senilai US$ 300 miliar.
Bisa jadi perang dagang tereskalasi dengan implementasi tarif baru. Bisa juga tidak.
Masalahnya, dua skenario tersebut berpotensi menyebabkan dua kondisi perekonomian yang sangat berbeda.
Bila perang dagang makin panas?
Beberapa analis memperkirakan ekonomi global akan tenggelam ke dalam resesi bila benar Trump mengenakan tarif baru. Karena China pasti akan mengambil lah serupa. Perang tarif akan berkecamuk pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Peluang bahwa kita akan mengalami resesi global akan meningkat bila tidak ada penurunan ketegangan antara AS dan China," kata Peter Boockvar, chief investment strategist di Bleakly Advisory Group, dilansir dari CNBC International.
"(Jika perang dagang memanas) kami memperkirakan pertumbuhan global akan menjadi 75 basis poin lebih rendah dalam enam kuartal ke depan - seukuran dengan krisis di zona euro, anjloknya harga minyak pada pertengahan 1980an, dan krisis 'Tequila' di 1990an," tulis kepala riset ekonomi global UBS Arend Kapteyn dalam sebuah catatan riset.
Tidak hanya resesi global, eskalasi perang dagang juga akan menambah alasan The Fed untuk memangkas suku bunga acuan lebih banyak lagi. Sebab, tanpa pelonggaran moneter yang memadai, resesi akan mengancam pertumbuhan ekonomi bahkan berisiko menyebabkan krisis.
Sebagai informasi, saat ini ada kemungkinan sebesar 44% dimana The Fed memangkas suku bunga tiga kali (75 basis poin) hingga akhir tahun 2019. Kalau perang dagang makin dahsyat, The Fed punya ruang lebih untuk memangkas suku bunga.
Dampak Ganda
Di satu sisi, resesi global merupakan iklim investasi yang buruk. Daya tarik emas sebagai instrumen hedging pun meningkat. Permintaan naik, harga juga terdongkrak.
Di sisi lain, penurunan suku bunga The Fed kemungkinan besar akan membuat dolar AS melemah karena likuiditas yang membuncah. Alhasil harga emas menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang selain dolar. Lagi-lagi, permintaan emas berpotensi meningkat dan mengerek harganya. Siapa yang bisa menolak barang bagus yang murah?
Kapan Damai Dagang Terwujud?
Sedangkan bila ada kesepakatan, dan eskalasi perang dagang bisa ditunda, atau bahkan dihilangkan, setidaknya risiko memburuknya ekonomi global bisa dihindari. Apalagi bila perkembangannya terus positif. Kondisi ekonomi bisa membaik sehingga risiko investasi terkikis.
Investor pun akan berbondong-bondong kembali agresif masuk ke pasar keuangan. Emas yang menghasilkan keuntungan minim pun ditinggalkan dan membuat harganya tertekan.
Selain itu penurunan suku bunga The Fed akan semakin terbatas. Menyebabkan kekuatan dolar tak jatuh terlalu dalam. Harga emas jadi tidak terlalu murah bagi pemegang mata uang selain dolar.
Pertemuan Trump-Xi Jadi Kunci
Karena itu, pertemuan Trump dan Xi di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada akhir pekan ini bisa menjadi momen kunci penentu arah gerak harga emas ke depannya.
Trump sudah berencana akan mengenakan bea masuk 25% pada produk China senilai US$ 300 miliar bila tidak ada kesepakatan yang dihasilkan pada pertemuan tersebut.
"Saya akan mengenakan tarif tambahan. tarif tambahan yang sangat substansial, jika itu [dialog] tidak berhasil, jika kami tidak membuat kesepakatan," ujar Trump, mengutip Reuters.
Namun mengingat pertemuan tersebut akan berlangsung hari Sabtu (29/6/2019), sentimen yang dihasilkan baru akan berdampak di hari Senin (1/7/2019). Sebab pasar emas global tutup di hari Sabtu dan Minggu.
Sementara menunggu pertemuan tersebut, harga emas diperkirakan akan stabil pada kisaran harga saat ini. Pun ada perubahan, tidak akan terlalu besar.
Sebagai informasi pada perdagangan hari Kamis (27/6/2019) pukul 15:30 WIB, harga emas kontrak pengiriman Agustus di bursa New York Commodity Exchange (COMEX) terkoreksi 0,6% ke level US$ 1.406/troy ounce. Sedangkan harga emas di pasar spot melemah 0,33% menjadi US$ 1.403,72/troy ounce.
Pada posisi tersebut, harga emas masih berada di dekat posisi tertinggi sejak enam tahun terakhir.
TIM RISET CNBC INDONESIA
(taa) Next Article Emas, How High Can You Fly
Most Popular