Polemik Berlanjut, Garuda Harus Restatement Laporan Keuangan

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
22 June 2019 09:03
Polemik Berlanjut, Garuda Harus Restatement Laporan Keuangan
Jakarta, CNBC Indonesia - Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) mengharapkan manajemen PT Garuda Indonesia (GIAA) untuk menyajikan ulang (restatement) laporan keuangan 2018 dan berkoordinasi dengan auditornya untuk melakukan update opini.

Ketua IAPI Tarkosunaryo mengatakan kesimpulan ini diperolehnya setelah bertemu dengan dan memeriksa akuntan publik Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang dan Rekan sebagai auditor laporan keuangan Garuda.



"Kami [IAPI] memang sangat berharap laporan keuangannya itu dibetulkan. Bukan hanya sekadar opininya, grade-nya turun. Kenapa? karena yang paling pokok laporan keuangannya. Kasihan bagi pengguna laporan keuangannya tidak mendapatkan informasi yang optimal," kata Tarkosunaryo dalam Diskusi Publik tentang Peran Akuntan Publik Dalam Tata Kelola Pelaporan, Jumat (21/6/2019).


Dia menilai, 'kesalahan; yang dilakukan dalam pembukuan laporan keuangan tahun ini adalah mengenai pengakuan transaksi Garuda dengan Mahata Aero Teknologi selaku rekanan penyedia jasa WiFi di pesawat sebesar US$ 239 juta sebagai pendapatan tahun 2018.

IAPI menilai hal itu tidak tepat, sebab kontrak ini berlaku jangka panjang, 15 tahun dengan Garuda Indonesia dan 10 tahun dengan Sriwijaya. Namun, seluruh pendapatannya telah dibukukan di satu tahun yang sama, yakni 2018.

Polemik Berlanjut, Lapkeu Garuda Harus RestatementFoto: Infografis/3 Emiten yang Terjebak Kasus Lapkeu/Edward Ricardo

Kemudian, dia menjelaskan bahwa transaksi pemberian hak layanan dengan kompensasi US$ 239 juta kepada Mahata dengan alokasi slot iklan merupakan transaksi tunggal, tidak terpisah. Sementara, GIAA meperlakukan transaksi tersebut sebagai dua transaksi berbeda yang atau dianggap tidak ada hubungannya.

Selain itu, lembaga ini juga menilai bahwa maskapai pelat merah ini juga akan menanggung kewajiban atau sisa kewajiban karena adanya risiko atas pemasangan, pengelolaan, pemeliharaan peralatan layanan karena fasilitas tersebut menggunakan pesawat miliknya.

"Kenapa IAPI juga menyatakan ini terlalu dini [disebut pendapatan] karena saat teken, namanya teken kontrak itu kan orang baru komitmen. Kalau masih kontrak itu kan belum diakui transaksinya," tegas dia.


Tarko menjelaskan transaksi yang disebut Garuda dan Mahata dalam laporan keuangan sebenarnya boleh saja dilakukan. Asalkan, sudah fix dan mencetak prestasi kerja. Saat ini prestasi kerja dari transaksi baru satu.

"Artinya, satu per 203 pesawat yang akan dipasang WiFi per US$ 239 juta, kan? Satu itu baru mulai loh. Baru mulai Desember sampai nanti 15 tahun. Setelah di-install pasca-pemasangan tadi ini Garuda masih akan tetap involve sampai periode akhir perjanjian tidak?" tutur Tarko.

"Kalau tahun ketiga atau tahun keenam putus [kontrak] kira-kira bagaimana? Masih akan ada hitung-hitungan," imbuhnya.

Selain itu, pemenuhan aspek manfaat ekonomi dari pendapatan akan mengalir kepada GIAA pada tahun 2018 masih diragukan karena ketika KSO GIAA dengan Sriwijaya berhenti di tengah jalan akan menimbulkan risiko dispute atas nilai US$ 28 juta.


Saksikan video mengenai laporan keuangan Garuda berikut ini.

[Gambas:Video CNBC]

(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading