Stok Berkurang, Harga CPO Kembali Melesat

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
27 May 2019 10:28
Stok Berkurang, Harga CPO Kembali Melesat
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) menguat seiring dengan optimisme peningkatan ekspor yang cukup pesat di bulan Mei dan stok yang mulai berkurang.

Pada perdagangan hari Senin (27/5/2019) pukul 10:15 WIB, harga CPO acuan kontrak pengiriman Agustus menguat hingga 0,94% ke posisi MYR 2.032/ton.

Berdasarkan pantauan dua surveyor kargo (Intertek Testing Services dan Amspec Agri Malaysia), ekspor minyak sawit Negeri Jiran periode 1-25 Mei 2019 naik pada kisaran 8,3%-15,6% dibanding periode yang sama bulan sebelumnya. Hal ini tentu membuat pelaku pasar sumringah karena potensi penurunan inventori di bulan Mei semakin besar.




Sebagai informasi, pada bulan April, stok minyak sawit di Malaysia sudah berkurang hingga 6,8% menjadi tinggal 2,7 juta ton dibanding bulan sebelumnya. Akan tetapi masih lebih tinggi 28% dibanding posisi April 2018.

Bila stok bisa semakin dikurangi, maka keseimbangan fundamental (pasokan-permintaan) bisa diperbaiki dan mengangkat harga CPO.

Akan tetapi apabila ternyata stok balik meningkat akibat produksi yang meluap, maka siap-siap harga CPO akan mendapat tekanan yang kuat.

Selain itu, penguatan harga CPO pagi ini juga disebabkan faktor teknikal. Sebagai informasi, sepanjang pekan lalu, harga CPO tercatat melemah hingga 4,05% secara point-to-point.

Hal itu akan membuat potensi rebound teknikal semakin besar. Maklum, dengan adanya sentimen positif yang menggerakkan, walaupun hanya sedikit, harga kontrak yang sudah murah membuat investor makin tertarik untuk mengoleksi minyak sawit.

Data resmi produksi, ekspor, dan stok akan dirilis oleh Malaysia Palm Oil Board (MPOB) bulan depan.

Sementara itu, perang dagang Amerika Serikat (AS)-China masih memberikan beban pada harga CPO, meskipun tidak secara langsung.

Pasalnya, China telah mengumumkan kenaikan tarif antara 5%-25% bagi produk-produk AS, termasuk produk pertanian mulai 1 Juni mendatang. Langkah tersebut diambil setelah AS secara resmi memberlakukan tarif 25% terhadap produk China senilai US$ 200 miliar pada tanggal 10 Mei 2019.

Bahayanya, China merupakan pembeli kedelai AS yang terbesar. Saat aliran perdagangan kedelai AS-China terhambat, maka kemungkinan besar stok kedelai akan menumpuk, dan juga membebani harga kedelai.

Mengingat minyak kedelai merupakan salah satu substitusi minyak sawit di pasar minyak nabati global, maka pergerakan harganya akan saling memberi pengaruh.

Kala harga kedelai melemah, harga CPO juga akan mendapat tarikan ke bawah. Terlebih saat faktor fundamental di pasar sawit masih belum kuat, sulit rasanya untuk melawan tarikan tersebut.

TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading