Sumber: Rencana Mandiri Akuisisi Permata Resmi Batal!

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
27 May 2019 09:17
Sumber: Rencana Mandiri Akuisisi Permata Resmi Batal!
Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencaplok saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) dikabarkan kandas menurut sumber CNBC Indonesia yang mengetahui rencana ini.

Bank Mandiri dan pemegang saham Bank Permata yakni Standard Chartered Bank (Stanchart) dan PT Astra International Tbk (ASII) diketahui tak menemukan kata sepakat terkait dengan harga jual per saham bank tersebut.

Sumber tersebut menyampaikan kabar tersebut setelah bertemu dengan pihak Bank Mandiri yang menyatakan rencana akuisisi Bank Permata secara resmi batal.


"Diskusi terakhir dengan BMRI menunjukkan rencana mengakuisisi BNLI secara resmi batal setelah kedua pihak tak bersepakat soal harga," kata sumber tersebut, Senin (27/5/2019).

CNBC Indonesia mencoba mengkonfirmasi kabar ini kepada Corporate Secretary Rohan Hafas, namun pesan singkat dan sambungan telepon dari CNBC Indonesia tak direspons.

Dua pekan lalu, saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank Mandiir, Rohan sempat menolak berkomentar saat ditanya soal batalnya transaksi ini. Ia hanya mengatakan rencana pengembangan anorganik tersebut terlebih dahulu harus dimasukkan dalam rencana bisnis perusahaan atau disampaikan kepada regulator dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Permata tidak boleh bicara, kita engga bisa bicara Permata. Belum bisa kasih informasi apapun terkait apa namanya anorganik. Perkembangan kita, mau apa kita belum bisa kasih," kata Rohan di Menara Mandiri, Jakarta, Kamis (16/5/2019).
Penjelasan Bank Mandiri Soal Pembatalan Akuisisi Permata
[Gambas:Video CNBC]

Pada awal mulai negosiasi pembelian Bank Permata, sumber CNBC Indonesia sempat menyampaikan bahwa Bank Mandiri awalnya masuk dengan penawaran harga nilai buku atau price to book value (PBV) sebesar 1,8x.

PBV ini adalah penilaian harga saham dengan nilai buku perusahaan. Biasanya, saham yang memiliki rasio PBV besar, memiliki valuasi yang tinggi (overvalue) sedangkan saham yang memiliki PBV di bawah 1 memiliki valuasi yang rendah alias undervalue.

Seiring dengan proses negosiasi, Bank Mandiri kemudian menarik penawaran lama dan menyampaikan penawaran harga baru dengan PBV pada 1,4x-1,5x. Angka tersebut dinilai harga paling wajar bagi Bank Mandiri.

Sebagai informasi, data perdagangan Senin ini menunjukkan PBV Bank Permata yakni sebesar 0,98x dengan harga saham Rp 805/saham.


Spekulasi terkait harga pembelian tersebut akhirnya ditangkis semua oleh Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo. Namun proses akuisisi sedang berjalan pada waktu itu.

"Jadi yang bisa saya sampaikan, semua omongan di publik mengenai valuasi segala macam itu rumor semua. Karena ini kami sama-sama perusahaan publik, kami tidak bisa sampaikan sebelum ada titik-titik tertentu," kata Kartika saat ditanya sejumlah awak media, Selasa (09/04/2019).

Deputi Bidan Jasa Keuangan Kementerian Badan Usaha Milik Negara Gatot Trihargo juga tidak merespons sambungan telepon dari CNBC Indonesia.

Sebelumnya dia juga tidak membantah dan tidak mengiyakan kabar batalnya bank pelat merah itu untuk mencaplok Bank Permata dari dua pemegang sahamnya.

Saat ini, saham BNLI dipegang mayoritas oleh Astra dan Stanchart, masing-masing 45%. Sisa saham Bank Permata dimiliki investor publik sebesar 10,88% atau 3,05 miliar saham. "Itu aksi korporasinya Bank Mandiri saja," tegasnya kepada CNBC Indonesia, Selasa (14/5/2019).

Namun menurut sumber CNBC Indonesia, pembatalan akuisisi ini akan berdampak positif bagi Bank Mandiri. Ini akan menghapus sentimen negatif saham perseroan.

Sebaliknya, bagi Bank Permata, ini akan menjadi kabar buruk. Harga saham berpotensi kembali ke level sebelum rencana akuisisi ini tersiar.

Namun sekedar catatan, Standard Chartered pada Februari sudah menegaskan rencana penjualan saham Bank Permata. Artinya aksi korporasi ini sudah menjadi rencana bisnis Stanchart tahun ini. (hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading