Di Bursa Nasdaq, Bos KSEI Cerita Pasar Modal Indonesia

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
25 May 2019 - 17:36
Di Bursa Nasdaq, Bos KSEI Cerita Pasar Modal Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Friderica Widyasari Dewi mendapat kesempatan bertukar pikiran dan membagi pengalaman soal pasar saham Indonesia di Bursa Nasdaq, Amerika Serikat (AS).

Dalam wawancara dengan tim Bursa Nasdaq pada Jumat (24/5/2019), Friderica mengungkapkan apa saja tantangan yang dihadapi di pasar modal Indonesia, termasuk bagaimana urgensi penggunaan teknologi dalam pengembangan pasar modal Tanah Air.

Bahkan fotonya terpajang di depan Bursa Nasdaq, di Times Square, New York City AS. Nasdaq adalah salah satu dari dua bursa utama di AS. Satunya lagi yakni New York Stock Exchange (NYSE) yang terletak di Wall Street, Lower Manhattan, juga di New York City.

Dalam situs resminya, Nasdaq mengklaim sebagai pencipta pasar saham elektronik pertama di dunia, teknologinya memperkuat lebih dari 100 pasar (bursa efek) di 50 negara. Nasdaq memiliki jumlah emiten mencapai lebih dari 4.000 perusahaan dengan total nilai pasar menembus sekitar US$ 14 triliun.


Dalam wawancara yang dipublikasikan di situs Nasdaq, Kiki, panggilan akrabnya menceritakan kepada tim Nasdaq bagaimana dia memulai karier di pasar modal, dan saran apa yang akan dia berikan kepada para profesional yang bercita-cita untuk berkecimpung di industri keuangan dan teknologi.

Setelah lulus sebagai sarjana ekonomi di Universitas Gadjah Mada (UGM), Indonesia, dan MBA di bidang keuangan di California State University, AS, Kiki kemudian masuk ke pasar modal dan menjadi salah satu direktur Bursa Efek Indonesia (BEI).

"Saya melihat bahwa pasar modal Indonesia memiliki potensi besar untuk tumbuh dalam hal ukuran pasar, jumlah investor, perusahaan terbuka, pengembangan produk, dan banyak lagi," kata Kiki.


Selain itu dia menegaskan teknologi adalah tulang punggung dari hampir semua perkembangan infrastruktur pasar di pasar modal. Menurut dia, tantangan adalah unsur terpenting bagi pelaku pasar untuk bekerja keras dan berinovasi untuk mengatasi situasi.

"Ketika saya pertama kali bergabung dengan industri pasar modal, pasar modal Indonesia tidak seperti sekarang ini, jumlah investor, penerbit, dan pengembangan produk sangat rendah. Dengan demikian, nilai transaksi, kapitalisasi pasar, dan parameter pasar lainnya juga rendah," jelasnya.

Namun SRO (self regulatory organization) yang terdiri dari BEI, KSEI, dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), bersama-sama dengan regulator yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pelaku pasar, telah bekerja bersama untuk menumbuhkan industri pasar modal.


Tujuannya meningkatkan sisi penawaran dan permintaan, membangun infrastruktur dan peraturan pasar modal yang dibutuhkan agar pasar modal Indonesia bisa tumbuh.

Foto: CNBC Indonesia/Salini

"Sekarang, pasar modal Indonesia telah berkembang pesat, tetapi masih ada banyak cara untuk tumbuh di masa depan. Sebagai contoh, jumlah investor, meskipun telah tumbuh secara signifikan, tetapi dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, itu masih sangat rendah," jelasnya.

Apalagi, katanya, Indonesia punya semua potensi yakni masuk menjadi anggota negara-negara G20, pertumbuhan ekonomi yang stabil, populasi yang besar, kaya akan sumber daya alam, dan sejumlah besar perusahaan potensial yang akan masuk bursa.

"Saya memiliki keyakinan kuat bahwa pasar modal Indonesia akan tumbuh semakin besar di masa depan."


Ketika ditanya oleh tim Nasdaq soal saran kepada para profesional muda yang bercita-cita bekerja di industri pasar modal teknologi?

"Bersikaplah gigih, optimis, dan percaya diri, namun selalu lengkapi diri Anda dengan pengetahuan dan keterampilan di bidang keuangan dan teknologi yang membuat Anda menonjol di antara yang lain.
Jangan pernah merasa terintimidasi, lagipula, keahlian, pengetahuan, sikap positif, dan kerja keras Anda yang menentukan kesuksesan Anda."
(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading