Bentrok Pilpres Usai, Asing Tekan Yield Wajar SUN Hingga 8%

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
23 May 2019 19:38
Bentrok Pilpres Usai, Asing Tekan Yield Wajar SUN Hingga 8%
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah menguat signifikan hari ini, didorong investor asing yang masuk ke pasar setelah bentrok yang terjadi di dalam negeri di seputaran pilpres akhirnya berakhir semalam. 

Apresiasi harga tersebut turut menekan yield seri acuan 10 tahun sudah di bawah level psikologis 8%, seri acuan yang paling dipantau pelaku pasar. 

Penguatan juga serentak terjadi di pasar keuangan lain yaitu di bursa saham dan bursa valas. 


Penguatan harga surat utang negara (SUN) yang sejalan dengan pergerakan pasar keuangan domestik itu tidak seiring dengan pergerakan negara berkembang yang lain yang justru terkoreksi secara luas.  

Pemerintah juga menyatakan investor asing sudah mencatatkan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 1,7 triliun dalam 2 hari terakhir. 

Data harga wajar obligasi PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) menunjukkan menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).  

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder. 

Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka. 

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. 

Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun. 

Seri acuan yang paling menguat adalah FR0079 yang bertenor 20 tahun dengan penurunan yield 17,52 basis poin (bps) menjadi 8,45%.

Besaran 100 bps setara dengan 1%.
 

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam keterangannya hari ini menyatakan investor asing sudah melakukan aksi beli bersih (net foreign buy) Rp 1,7 triliun dalam 2 hari terakhir. 

Masuknya investor asing tersebut mengindikasikan pelaku pasar sudah mulai percaya diri dan masuk ke pasar dan memborong instrumen utang rupiah pemerintah tersebut sampai membuat harganya meroket dan menekan yield hingga ke bawah level psikologis 8%. 

 
Yield Wajar Obligasi Negara Acuan 23 Mei'19
SeriJatuh tempoYield wajar IBPA 22 Mei'19 (%)Yield wajar IBPA 23 Mei'19 (%)Selisih (basis poin)
FR00775 tahun7.58577.5033-8.24
FR007810 tahun8.07997.9305-14.94
FR006815 tahun8.54588.4144-13.14
FR007920 tahun8.62528.45-17.52
Avg movement-13.46
Sumber: IBPA   


Yield Obligasi Negara Acuan 23 Mei'19
SeriJatuh tempoYield 22 Mei'19 (%)Yield 23 Mei'19 (%)Selisih (basis poin)Yield wajar IBPA 23 Mei'19
FR00775 tahun7.5667.5973.107.5033
FR007810 tahun8.0918.05-4.107.9305
FR006815 tahun8.5798.537-4.208.4144
FR007920 tahun8.6218.6533.208.45
Avg movement-0.50
Sumber: Refinitiv  


Apresiasi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih menguat.  

Indeks tersebut naik 1,46 poin (0,6%) menjadi 244,25 dari posisi kemarin 242,79. 

Apresiasi SBN hari ini juga membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 569 bps, melebar dari posisi kemarin 565 bps.  

Yield US Treasury 10 tahun turun lagi hingga 2,35% dari posisi kemarin 2,43%. 

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini inversi tenor 3 bulan-10 tahun mulai terjadi lagi setelah menghilang 2 hari.  

Inversi kedua tenor tersebut sebagai indikator yang lebih menegaskan kembali bahwa potensi resesi AS semakin dekat dibanding inversi seri lain. 

Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang. 

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.


 
Yield US Treasury Acuan 23 Mei'2019
SeriBenchmarkYield 22 Mei'19 (%)Yield 23 Mei'19 (%)Selisih (Inversi)Satuan Inversi
UST BILL 20193 Bulan2.3782.3743 bulan-5 tahun22.3
UST 20202 Tahun2.2312.1942 tahun-5 tahun4.3
UST 20213 Tahun2.1712.1363 tahun-5 tahun-1.5
UST 20235 Tahun2.1892.1513 bulan-10 tahun1.8
UST 202810 Tahun2.3932.3562 tahun-10 tahun-16.2
Sumber: Refinitiv  


Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 949,69 triliun SBN, atau 38,18% dari total beredar Rp 2.487 triliun berdasarkan data per 21 Mei.  

Angka kepemilikannya masih positif Rp 56,44 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. 

Meskipun demikian, investor asing masih mencatatkan jual bersih Rp 12,88 triliun sepanjang bulan hingga 21 Mei dan jual bersih Rp 4,74 triliun sepanjang pekan ini hingga Selasa. 

Penguatan di pasar surat utang hari ini juga terjadi di pasar yang meroket 1,57% dan rupiah di pasar valas sudah naik hingga Rp 14.455 per dolar AS.


Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang
NegaraYield 22 Mei'19 (%)Yield 23 Mei'19 (%)Selisih (basis poin)
Brasil8.838.863.00
China3.3173.3392.20
Jerman-0.079-0.106-2.70
Perancis0.3090.293-1.60
Inggris1.0170.988-2.90
India7.2597.223-3.60
Jepang-0.059-0.0580.10
Malaysia3.8223.8361.40
Filipina5.8315.785-4.60
Rusia7.897.945.00
Singapura2.1852.161-2.40
Thailand2.462.435-2.50
Amerika Serikat2.3932.354-3.90
Afrika Selatan8.418.4352.50
Sumber: Refinitiv  


TIM RISET CNBC INDONESIA (irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading