Maskapai Mana yang Terdampak Harga Tiket? Ini Analisis Fitch

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
23 May 2019 13:45
Maskapai Mana yang Terdampak Harga Tiket? Ini Analisis Fitch
Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings memproyeksikan kinerja operasional dan performa keuangan industri penerbangan Tanah Air akan membaik di tahun 2019, meskipun pemerintah baru-baru ini menurunkan Tarif Batas Atas (TBA) harga tiket pesawat untuk beberapa rute domestik.

Pada 15 Mei lalu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menerbitkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 106 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkatan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Berdasarkan keputusan tersebut, terdapat penyesuaian TBA sekitar 12-16%. Maskapai berbiaya rendah atau Low Cost Carries (LCC) dapat mengenakan 35-85% dari total TBA, sedangkan maskapai jasa medium dan full service dapat mematok tarif maksimum 90% dan 100% dari TBA.


Jajaran maskapai full service yakni Garuda Indonesia dan Batik Air, sementara LCC di antaranya Citilink, AirAsia, dan Lion Air, dan kelas medium yakni Sriwijaya Air.

Pada laporan 22 Mei 2019, Fitch menyampaikan bahwa kebijakan tarif yang baru tersebut sebetulnya hanya berdampak langsung pada penyedia jasa maskapai full service seperti Garuda Indonesia dan Batik Air. Garuda Indonesia dioperasikan oleh PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), sementara Batik Air milik Lion Air Group.


Meski ada perubahan kebijakan pada TBA, tapi Tarif Batas Bawah (TBB) yang lebih tinggi dan sistem rasionalisasi kilometer ketersediaan kursi (Available Seat Kilometers/ASK) akan membatasi kapasitas penumpang, sehingga akan mampu mendukung kinerja operasional maskapai.

Pada awal tahun ini, Kemenhub sudah memutuskan menaikkan TBB tiket pesawat menjadi sekitar 35% dari batas atas, dari semula 30% dari batas atas.

Langkah tersebut diambil untuk memastikan kelangsungan bisnis industri penerbangan Tanah Air yang selama ini diberatkan dari harga bahan bakar (avtur) yang mahal.

Dalam risetnya, Fitch menilai bahwa tingkat kompetisi yang lebih rendah dengan industri yang terkonsolidasi akan mampu menutupi dampak dari penurunan TBA pada maskapai full service.

Khusus Garuda, menurut Fitch, sistem rasionalisasi ASK dan kerja sama operasional (KSO) antara Grup Garuda Indonesia dan Grup Sriwijaya akan menjadi katalis positif, karena akan menjadikan kedua pemain tersebut mampu memimpin industri penerbangan domestik.

Hal ini terbukti dari imbal hasil penerbangan domestik Garuda pada kuartal I-2019 yang meningkat 40% secara tahunan (YoY) menjadi US$ 10,8/km, dari periode yang sama tahun lalu US$ 7,7/km. Anak usaha Garuda Indonesia, Citilink juga membukukan kenaikan imbal hasil hingga sekitar 556% YoY menjadi US$ 7,4/km dari sebelumnya US$ 4,7/km.

Selain itu, pemasukan yang lebih besar dari sisi penumpang berhasil mendorong performa keuangan yang lebih solid bagi Grup Garuda. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa kenaikan TBA akan berpotensi menurunkan jumlah penumpang.

Hingga akhir Maret 2019, pendapatan penumpang domestik Garuda Indonesia naik 11,2% YoY menjadi US$ 333 juta atau setara dengan Rp 4,79 triliun (asumsi kurs Rp 14.400/US$), sedangkan Citilink melesat 55,9% YoY menjadi US$ 187 juta.

Fitch juga memproyeksi bahwa permintaan yang tinggi selama liburan Idul Fitri pada bulan Juni mendatang akan membantu mempertahankan kinerja keuangan yang kokoh. Namun, masih ada resiko konsumen yang beralih ke transportasi laut atau darat, terutama untuk rute Jawa.

Untuk diketahui, baru ada tiga perusahaan maskapai yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) di antaranya Garuda Indonesia, PT Air Asia Indonesia Tbk (CMPP), dan PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk (IATA). Emiten yang terakhir disebut ini dikendalikan oleh Grup MNC.

Maskapai milik AirAsia tergolong sebagai LCC, sehingga menurut Fitch, kenaikan TBA hanya akan memberi dampak kecil pada bisnis perusahaan.

Pada kuartal I-2019 perusahaan masih membukukan kerugian sebesar Rp 93,59 miliar. Padahal pendapatan perusahaan tumbuh 57,93% secara tahunan menjadi Rp 1,33 triliun dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 843,84 miliar.

Adapun maskapai milik IATA hanya melayani jasa penyewaan pesawat untuk bisnis alias charter. Sepanjang kuartal I-2019 perusahaan juga merugi sekitar US$ 599.919.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(dwa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading