Anjlok Lagi, Poundsterling Nyaris Tak Punya Pijakan Menguat

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
21 May 2019 19:27
Poundsterling kembali anjlok di perdagangan Selasa (21/5/19) dan menembus ke bawah level US$ 1,2700 untuk pertama kalinya sejak 15 Januari 2019.
Jakarta, CNBC Indonesia - Poundsterling kembali anjlok di perdagangan Selasa (21/5/19) dan menembus ke bawah level US$ 1,2700 untuk pertama kalinya sejak 15 Januari 2019.

Mata uang Inggris ini seperti tidak punya pijakan untuk menguat, isu hard Brexit terus memberikan tekanan. Pada pukul 19:11 WIB, pound diperdagangkan di kisaran US$ 1,2724, setelah sebelumnya sempat turun ke level US$ 1,2684 mengutip kuotasi MetaTrader 5.

Perdana Menteri Inggris Theresa May yang berencana mengajukan proposal Brexit ke parlemen di awal Juni diprediksi akan kalah lagi, dan posisinya sebagai orang nomer 1 di pemerintahan diperkirakan akan lengser.


Posisi May terlihat sudah terjepit, jika voting kali ini berhasil dimenangi maka ia akan mengumumkan pengunduran diri sesuai dengan janjinya, sementara jika kalah lagi, desakan untuk mundur dari Partai Konservatif pimpinannya akan semakin kuat.

Nama Borish Jonhson muncul sebagai kandidat kuat pengganti May. Mantan Menteri Luar Negeri Inggris ini merupakan tokoh pro-Brexit, dan anti Uni Eropa, sehingga jika ia menduduki jabatan orang nomer satu di pemerintahan, dikhawatirkan Inggris akan dibawa keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun, atau hard Brexit.

Laporan inflasi dan proyeksi ekonomi dari Bank of England (BoE) sebenarnya diharapkan bisa memberikan tenaga bagi pound untuk menguat.

Hard Brexit dikhawatirkan akan membawa ekonomi Inggris ke dalam resesi, BoE akan memiliki peran penting untuk menghadang hal tersebut. Sikap optimis BoE dalam menghadapi situasi itu diperlukan untuk meningkatkan tingkat keyakinan para pelaku bisnis maupun warga Inggris, sehingga poundstering punya ruang sedikit untuk menguat. Namun laporan yang dijadwalkan hari ini ditunda menjadi besok oleh Parlemen Inggris.



Selain itu, besok Inggris juga akan melaporkan data inflasi bulan April yang diprediksi tumbuh 2,2% dari bulan sebelumnya 1,9%, berdasarkan data di Forex Factory. Rilis data yang lebih tinggi dari prediksi bisa memberikan peluang pound untuk menguat.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


(pap/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading