Membedah Jejak China di Kepemilikan Obligasi AS

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
17 May 2019 16:47
Membedah Jejak China di Kepemilikan Obligasi AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Kepemilikan obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) oleh China turun, dan menjadi bukti bahwa Presiden China Xi Jinping sudah melancarkan aksi tandingan dalam perang dagangnya dengan Presiden AS Donald Trump. 

Aksi cakar-cakaran tersebut tentulah membuat benang kusut yang menghubungkan kedua negara semakin sulit terurai. 

Bagaimana pergerakan posisi kepemilikan China di pasar obligasi negara AS atau US Treasury?  


Data US Treasury menunjukkan investor asal China, baik pemerintah maupun swastanya, tercatat sudah menjual US$155,1 miliar US Treasury sejak Januari 2014. Dengan demikian, nilai obligasi pemerintah AS yang dipegang China menjadi US$ 1,12 triliun per Maret 2019.




Sejak akhir Maret tahun lalu, nilai UST yang dilepas China mencapai Rp 67,2 miliar atau turun 5,66%.
 

Secara berurut, investor asal China adalah pemilik asing dari US Treasury yang paling besar, diikuti oleh Jepang, Inggris, Brasil, Irlandia, Luksemburg, Swiss, Cayman Island, Hong Kong, dan Belgia.  

Pada periode tahunan tersebut dan dari 10 negara tersebut, China bukanlah satu-satunya negara yang melakukan aksi jual bersih (net sell) US Treasury karena adalah ada juga Irlandia dan Swiss yang masing-masing melepas US$ 40,5 miliar dan US$ 19 miliar. 


 

Secara otomatis, ada tujuh negara yang memperbesar porsi kepemilikan US Treasury di dalam portofolionya dengan nilai aksi beli bersih (net buy) terbesar dibukukan oleh Belgia dan Inggris Raya.
Yang menarik, negara pulau jajahan Inggris Raya Cayman Islands di Laut Karibia yang PDB-nya US$ 2,5 miliar pada 2014 atau 1/15 dari PDB Indonesia turut membeli US Treasury dalam jumlah jumbo pada periode tersebut.  

Masing-masing dari tiga negara tersebut mengoleksi US Treasury senilai US$ 59,9 miliar, US$ 53,5 miliar, dan US$ 53,4 miliar.  



Dihitung dari Februari, nilai obligasi dolar AS pemerintahan Paman Sam yang dimiliki China juga berkurang US$ 10,4 miliar atau 0,92% dan menjadikan China satu-satunya dari 10 negara tadi yang melepas US Treasury pada periode tersebut.
  

Dengan melihat rekam jejak tersebut, dapat diperhatikan bahwa China berangsur menurunkan porsi kepemilikan US Treasury-nya sejak 2014.

China memiliki US Treasury dalam jumlah besar sebagai alat untuk menyeimbangkan nilai tukar dolar AS dan yuan, yaitu dengan membelanjakan dolar AS yang dimilikinya dari aktivitas perdagangan untuk membeli surat utang tersebut.

Saat ini, neraca perdagangan China masih surplus hampir setiap waktu dengan AS sebagai mitra dagang utamanya, karena di satu sisi China membutuhkan AS untuk menyerap barang produksinya yang murah dan perusahaan AS turut membutuhkan barang berharga murah dari China, sehingga keseimbangan aktivitas perdagangan kedua negara sangat dijaga.

Di sisi lain, Negeri Tirai Bambu sangat berkepentingan menjaga agar nilai tukar mata uangnya terutama agar tidak terlalu menguat demi mendorong ekspornya, karena jika terlalu menguat maka barang-barang yang dijual negaranya akan lebih tidak laku.



TIM RISET CNBC INDONESIA




TIM RISET CNBC INDONESIA
(irv/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading