AS Vs China Jilid II dan Pengaruh Besarnya Bagi Indonesia

Market - Taufan Adharsyah & Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
14 May 2019 16:37
AS Vs China Jilid II dan Pengaruh Besarnya Bagi Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS) dan China kembali terjadi.

Pada hari Minggu (10/5/2019), pemerintah AS secara resmi telah memberlakukan tarif impor sebesar 25% atas aneka produk asal China yang senilai US$ 200 miliar.

Membalas, hari Senin (13/5/2019) China mengumumkan pembebanan tarif baru yang berkisar antara 5%-25% terhadap produk-produk made in USA mulai 1 Juni 2019 mendatang.


Dengan begitu resmi sudah perang dagang ronde II dimulai. Ronde pertama terjadi pada tahun lalu dimana AS memberlakukan tarif sebesar 10% terhadap produk China senilai 200 miliar. Sedangkan China memberlakukan tarif impor sebesar 10% terhadap produk AS senilai US$ 110 miliar.

Karena kali ini yang berseteru adalah dua negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia, maka dampaknya pun tidak hanya dirasakan oleh mereka saja. Perlambatan ekonomi akan menular ke seluruh penjuru negeri, tidak terkecuali Indonesia.

Tampaknya dampak terhadap Indonesia juga akan cukup signifikan. Pasalnya China dan AS merupakan mitra dagang utama Indonesia.

Apalagi China, yang pada tahun 2018 menempati urutan pertama negara tujuan ekspor Indonesia dengan total nilai ekspor mencapai US$ 27,13 miliar atau setara Rp 391,71 triliun.

Sementara AS berada di posisi ketiga dengan total ekspor sebesar US$ 18,47 miliar.

Deretan lima teratas Komoditas tanah air yang paling banyak dikirim ke China adalah:

Kode HS IndukKomoditasNilai Ekspor (Miliar US$)
27Bahan bakar mineral dan produk distilasinya8.79
15Lemak dan minyak dari hewan maupun tumbuhan3.25
72Besi dan Baja2.61
26Bijih, ampas, dan debu1.97
47Bubur kayu, sisa atau scrap dari kertas (termasuk kertas karton)1.89
Sumber: UNComtrade

Sedangkan, komoditas Indonesia yang paling banyak dikirim ke AS diantaranya:

Kode HS IndukKomoditasNilai Ekspor (Miliar US$)
62Pakaian dan aksesoris makanan yang tidak dirajut2.28
61Pakaian dan aksesoris makanan yang dirajut2.23
40Karet dan bahan baku karet1.64
64Alas kaki1.42
3Ikan, termasuk krustasea, moluska1.32
Sumber: UNComtrade


Jika melihat secara umum, perlambatan ekonomi China dan AS sudah tentu akan membuat permintaan barang dari keduanya akan melambat.

Terbukti pada tahun 2018 saja, dimana perang dagang baru pada tarif 10%, nilai ekspor Indonesia ke China hanya tumbuh sebesar 17,7% year-on-year. Jauh lebih kecil dibandingkan pertumbuhan ekspor ke China tahun 2017 yang mencapai 37,4% YoY.

Sama halnya dengan nilai ekspor ke AS yang tumbuh melambat. Pada tahun 2018, pertumbuhan ekspor ke AS hanya sebesar 3,7% YoY. Jauh lebih rendah dibanding tahun 2017 yang tumbuh 10,1% YoY.

Penurunan permintaan dari AS dan China juga membuat nilai total ekspor Indonesia sepanjang tahun 2018 hanya mampu tumbuh 6,8% menjadi US$ 180.22 miliar. Melambat dibanding tahun 2017 yang mampu tumbuh hingga 16,8%.

Alhasil neraca perdagangan anjlok, dengan defisit sebesar US$ 8,54 miliar, atau yang terburuk sepanjang sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia.



Artinya memang perseteruan antara China dan AS terbukti mampu membuat kinerja perdagangan luar negeri Indonesia sulit bangkit. Apalagi kali ini (2019) perang dagang bergejolak dalam intensitas yang lebih tinggi. Sulit rasanya untuk membayangkan perbaikan kinerja perdagangan RI tahun ini.

Tentu saja dampak kinerja perdagangan luar negeri (ekspor-impor) tidak hanya berhenti sampai di situ, karena transaksi barang merupakan komponen penting dalam neraca transaksi berjalan (current account).

Bila defisit transaksi barang kembali defisit, bahkan melebar dari tahun 2018 yang sebesar US$ 439 juta, bukan tidak mungkin defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) juga makin lebar. Sebagai informasi CAD tahun 2018 mencapai US$ 31,05 miliar atau setara 2,98% Produk Domestik Bruto (PDB).

CAD yang semakin lebar tentu bukan kabar baik bagi perekonomian Indonesia karena menggambarkan arus modal yang lebih bertahan lama. Kurangnya pasokan valas dalam negeri akan menyebabkan mata uang Indonesia, rupiah menjadi rentan melemah ditekan mata uang negara lain.


TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/taa)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading