Kenapa Garuda Indonesia Berani Teken Kontrak dengan Mahata?

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
09 May 2019 04:37
Kenapa Garuda Indonesia Berani Teken Kontrak dengan Mahata?
Tangerang, CNBC Indonesia - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) membeberkan alasan bekerja sama dengan PT Mahata Aero Teknologi (MAT). Alasannya karena tak perlu mengeluarkan biaya untuk kebutuhan investasi alias zero cost dan menggunakan sistem bagi hasil (revenue sharing) dari pendapatan iklan.


Direktur Teknik dan Layanan Garuda Indonesia Iwan Joeniarto mengatakan pihaknya telah melakukan feasibility study (FS) terlebih dahulu sebelumnya untuk memutuskan bekerja sama dengan perusahaan rintisan (start up) tersebut. Pertimbangan lainnya adalah ini merupakan model bisnis baru yang dijalankan oleh Garuda dengan tujuan untuk meningkatkan value added jasa perusahaan.

"Untuk melakukan bisnis ada FS. Ini bisnis model baru di Garuda, bisnis dengan Mahata tidak ada investasi, tidak ada cost jadi Mahata yang tanam investasi, pasang wifi kemudian inflight connectivity tidak bayar," kata Iwan di Kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (8/5/2019).
Foto: Paparan publik PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) di Hanggar 4 GMF Aero Asia, Soekarno Hatta International Airport (CNBC Indonesia/Monica Wareza)

Selain itu, Iwan melanjutkan, pertimbangan lainnya untuk bekerja sama dengan MAT adalah background perusahaan yang merupakan bagian dari Global Mahata Group juga bekerja sama dengan Immarsat, Lufthansa System dan Lufthansa Technic untuk teknologi yang akan digunakan.

Adapun biaya kompensasi yang ditagihkan kepada MAT tersebut ialah senilai US$ 92,94 juta untuk 103 pesawat Garuda Indonesia, US$ 39 juta untuk 50 pesawat Citilink, dan US$ 30 juta untuk 50 pesawat Sriwijaya Air.

Sementara itu untuk biaya kompensasi atas hak pengelolaan layanan hiburan dalam pesawat dan manajemen konten senilai US$ 80 juta untuk 99 pesawat Garuda Indonesia.

Kontrak kerja sama perusahaan penerbangan pelat merah dengan MAT ini juga terbilang panjang jangka waktunya. Menurut Iwan, pihak Garuda tak takut bila kontrak tersebut berhenti di tengah jalan karena hak tagihnya tetap ada.

"Tidak mengurangi (pendapatan). Hak pakai karena bisnis modelnya bagus. Kalau tiba-tiba Mahata alfa atau harus keluar dari itu, banyak yang akan take over, banyak investor yang mau karena bisnis modelnya bagus. Jadi kita yakin karena di belakangnya ada Lufthansa ada Immarsat jadi tidak mungkin itu perusahaan internasional mau bekerja sama," jelas dia.

Garuda memperkirakan per tahunnya bisa membukukan pendapatan senilai US$ 2-US$ 4/penumpang. Jumlah itu dikalkulasikan dengan rerata jumlah penumpang Garuda Indonesia Grup yang mencapai 50 juta/tahun.
Simak video terkait laporan keuangan Garuda Indonesia di bawah ini.



(miq/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading