Kerja Sama Rp 3,4 T dengan Garuda, Ini Orang di Balik Mahata

Market - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
30 April 2019 14:43
Kerja Sama Rp 3,4 T dengan Garuda, Ini Orang di Balik Mahata
Jakarta, CNBC Indonesia - Nama PT Mahata Aero Teknologi sedang jadi perbincangan hangat. Hal ini terjadi lantaran persoalan yang sedang menimpa PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) terkait laporan keuangan yang dinilai Janggal.

Mahata Aero tercatat sebagai penyedia layanan WiFi milik maskapai penerbangan plat merah tersebut. Ternyata setelah ditelusuri ada yang tidak beres dengan transaksi antara Mahata dan Garuda Indonesia.

Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa (30/4/2019) perusahaan yang didirikan pada 3 November 2017 ini berdomisili di Prosperity Tower lantai 9, Kawasan Sudirman, jakarta selatan. Adapun kegiatan usaha perusahaan meliputi bidang industri jasa, perdagangan, pembangunan, percetakan, transportasi dan pertanian.


"Saat ini kegiatan usaha Mahata bergerak dibidang penyedia layanan internet pada transportasi udara," ungkap informasi tersebut.

Sementara itu, jika melihat dari susunan pemegang saham, 32% atau 6.720 lembar senilai Rp 3,3 miliar dipegang oleh Hendro Prasetyo. Selanjutnya 33,5% atau 7.035 lembar saham senilai Rp 3,5 miliar dimiliki oleh PT Wicell Technologies.

Berdasarkan penelusuran, Wicell Technologies beralamat Intermark Building Indonesia, Jalan Lingkar Timur BSD, Serpong.

Dua pemilik saham lainnya adalah Muhamad Fitriansyah dan Edward Sidharta Jayasubrata. Muhammad Fitriansyah memegang 32% atau 6.720 lembar dengan nilai Rp 3,3 miliar sementara Edward Sidharta memegang 2,5% atau 525 lembar saham dengan nilai Rp 262 juta.

Kerja Sama Rp 3,4 T dengan Garuda, Ini Orang Dibalik MahataFoto: Sumber: Twitter

Mahata memiliki perjanjian kerja sama dengan Garuda Indonesia sebesar US$ 239,94 juta atau Rp 3,36 triliun (kurs Rp 14.000) pada tahun lalu. Kerja sama selama 15 tahun tersebut kemudian dicatatkan sebagai pendapatan lain-lain di Garuda Indonesia, meski tidak ada uang yang dibayarkan, alias dicatat sebagai piutang.

Nah, karena pencatatan pendapatan tersebut akhirnya Garuda mengantongi laba bersih senilai US$ 809.846 pada 2018 atau setara Rp 11,49 miliar (Kurs Rp 14.200/US$).

Adapun tertulis bahwa kinerja laba bersih ini berhasil diselamatkan oleh adanya perjanjian pemberian hak royalti atas penyediaan layanan konektivitas dan konten hiburan pada pesawat milik Grup Garuda Indonesia dan Grup Sriwijaya.

Saksikan Video Bedah Kejanggalan Laporan Keuangan Garuda Indonesia

[Gambas:Video CNBC]
(dob/dob)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading