Cerita Mundurnya Chris Kanter & PR CEO Baru Indosat

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
04 May 2019 18:04
Apa yang membuat dirinya mengundurkan diri dari jabatan Chief Executive Officer PT Indosat Tbk?
Jakarta, CNBC Indonesia - Ada apa dengan Chris Kanter? Apa yang membuat dirinya mengundurkan diri dari jabatan Chief Executive Officer PT Indosat Tbk (ISAT), salah satu operator telekomunikasi terdepan di Indonesia?

Apakah tugasnya di Indosat sudah selesai?

Chris Kanter hanya 6 bulan menjabat sebagai CEO Indosat Ooredoo setelah akhirnya mengundurkan diri. Informasi pengunduran diri ini dibenarkan oleh Chief Business Officer Indosat Ooredoo Intan Abdams Katoppo. "Iya. Dia kembali menjadi komisaris," ujarnya kepada CNBC Indonesia, Jumat malam (3/5/2019).


Hingga kini, Chris belum merespons lebih lanjut pertanyaan soal keputusan yang mengangetkan pasar modal dan industri telco Tanah Air ini.

Mengangetkan karena pada Kamis (2/5/2019), Indosat baru saja menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), dan saat paparan publik usai RUPST itu, manajemen perusahaan juga sama sekali tidak menyinggung soal pucuk pimpinan operator telco yang dimiliki Ooredoo asal Qatar ini.

Dalam dokumen yang diperoleh CNBC Indonesia, terungkap alasan pergantian pucuk pimpinan Indosat. Ternyata, posisi Chris Kanter akan diisi oleh Ahmad Abdulaziz al Neama mulai 2 Mei lalu. Ahmad Abdulaziz bukan orang baru di Ooredoo, ia menghabiskan 15 tahun kariernya di grup perusahaan tersebut.

STOK ISATFoto: Indosat (CNBC Indonesia)

Dari penjelasan di dokumen itu, disebutkan bahwa 
6 bulan lalu, Chris memang setuju meninggalkan kursi jabatan komisaris Indosat untuk mengambil amanah sebagai CEO Indosat Ooredoo selama masa transisi manajemen.

Setelah masa transisi selesai, Chris akan kembali ke jabatan sebelumnya di ISAT yakni masuk dalam jajaran Dewan Komisaris perusahaan.

Pemegang saham Indosat menunjuk Chris sebagai direktur utama perseroan pada RUPSLB 17 Oktober 2018, menggantikan Joy Wahyudi yang mengundurkan diri pada akhir September 2018.


Chris dipandang berpengalaman di industri telekomunikasi, pemerintahan dan dunia bisnis serta organisasi, karena bergabung dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).
 

Chris sebelumnya memang menjadi komisaris di Indosat sejak Januari 2015. Sebelumnya, dia juga menjabat sebagai komisaris independen sejak 2010. Dia adalah founder dari Sigma Sembada Group, pernah menjadi staf khusus Menteri Perdagangan di era Rahmat Gobel pada 2014.

Pria kelahiran Manado 25 Juli 1952 pun juga pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada periode 1998-2002. Jadi jaringan Chris begitu luas, dari pelaku bisnis hingga birokrat dan politisi.

Saat diminta memegang tampuk pimpinan Indosat, ketika itu Chris 
memaparkan berbagai rencana dan strategi perseroan yang akan dilakukan.

Bahkan, ia berencana mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) senilai US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28,4 triliun (asumsi kurs Rp 14.200/US$) dalam 2 tahun ke depan.

Permintaan capex dengan nilai fantastis ini sudh didukung oleh pemegang saham mayoritas perseroan yakni Ooredoo Asia Pte. Ltd. Capex nilai jumbo ini juga menjadi syarat yang diinginkannya untuk mengisi posisi tertinggi di perusahaan telekomunikasi tersebut.

Dia membeberkan kunci strateginya yakni berkutat people, process dan business, dengan tetap menyesuaikan tantangan yang harus dihadapi perseroan yakni ketatnya kompetisi, dinamika pasar dan tren teknologi.

"Itu tadi saya bilang ke teman-teman Indosat modal kita yang paling kuat dan aset yang terbesar ialah people atau orang kita sendiri. Jadi itu yang kita akan develop [kembangkan] untuk jadi talent pool, walaupun kita di bawah Ooredoo maunya saya ini people bisa ditaruh di Myanmar dan lain-lain jadi itu kira-kira," ujar Chris saat itu.

Namun belum 2 tahun, Chris dinilai sudah menjalankan kepemimpinan dengan baik di Indosat.

Pekerjaan rumah bagi CEO Indosat yang baru tidak mudah, apalagi kinerja perusahaan merosot sepanjang 2018. Laporan keuangan 2018 menunjukka, perusahaan membukukan rugi bersih Rp 2,4 triliun. Kinerja merugi tersebut membalikkan keadaan karena pada 2017 masih mencatatkan laba Rp 1,13 triliun.

Kinerja mengecewakan Indosat disebabkan anjloknya pendapatan sebesar 22,68% atau Rp 6,6 triliun. Pendapatan Indosat pada 2018 tercatat hanya Rp 23,14 triliun, sementara setahun sebelumnya tercatat Rp 29,93 triliun.

Tak hanya soal kinerja, konsolidasi emiten telekomunikasi juga menjadi tantangan tersendiri bagi Indosat ke depan mengingat pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika juga mendorong merger akuisisi sektor telco. Jumah operator, kata Menteri Kominfo Rudiantara, sudah terlalu banyak.

Ditambah lagi, jika melihat riset Fitch Ratings baru-baru ini yang menunjukkan kompetisi bakal semakin ketat di industri telco. Pasalnya, emiten-emiten sektor telco berlomba-lomba meningkatkan capex mereka untuk memperkuat kapasitas jaringan, terutama di luar Jawa.

Nilai capex Indosat periode 2019-2021, sesuai catatan Fitch, mencapai Rp 10 triliun. Jumlahnya naik dari sebelumnya Rp 6 triliun di tahun 2018. Adapun PT XL Axiata Tbk (EXCL) dari Malaysia, juga menganggarkan belanja modal sebesar Rp 7,5 triliun tahun ini, naik tipis dari tahun lalu yang ada di Rp 7 triliun.

Lantas, bagaimana perjalanan Indosat ke depan di bawah CEO baru?

Mari menunggu gebrakan dari Ahmad Abdulaziz di Indosat.

Simak ulasan strategi Indosat terkait peluang konsolidasi.
[Gambas:Video CNBC]

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading