Risiko Banjir Pasokan Seret Harga CPO Terendah Sejak Desember

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
03 May 2019 11:01
Risiko Banjir Pasokan Seret Harga CPO Terendah Sejak Desember
Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) masih nahas. Setelah kemarin (2/5/2019) amblas hingga 2,15%, harga CPO masih terus turun ke bawah pada perdagangan Jumat (3/5/2019) pagi. Ketakutan pelaku pasar akan banjir pasokan masih kuat menarik harga CPO ke bawah.

Hingga pukul 10:00 WIB, harga CPO kontrak pengiriman Juli di bursa Malaysia Derivatives Exchange anjlok 1,07% menjadi tinggal MYR 2.028/ton.

Sejak awal tahu 2019, harga CPO sudah terkoreksi hingga 4,38%. Ini membuat harga CPO menyentuh titik terendah sejak 11 Desember 2018.





Sebagai informasi, karena produksi yang meningkat sepanjang tahun, posisi stok minyak sawit Malaysia pada akhir Desember 2018 mencapai 3,21 juta ton atau tertinggi sejak 19 tahun lalu.

Hal itu pula yang menjadi dalang koreksi harga CPO sebesar 16% sepanjang tahun 2018.

Pada bulan Maret 2019, stok minyak sawit memang sudah berkurang 4% dibanding bulan sebelumnya (month-on-month/MoM) menjadi 2,91 juta ton. Akan tetapi posisinya masih lebih tinggi dibanding Maret 2018 yang sebesar 2,33 juta ton.

Perkembangan terbaru, dua surveyor kargo (AmSpec Agri Malaysia dan Societe Generale de Surveillance) mengatakan ekspor minyak sawit Malaysia bulan April hanya naik sekitar 0,5%-2% MoM.  Bahkan satu surveyor (Intertek Testing Services) mengatakan ekspor pada bulan April tidak meningkat alias stagnan dari bulan sebelumnya.

Alhasil pelaku pasar memprediksi stok akan naik lagi. Beban harga CPO pun bertambah.

"Produksi tidak turun, dan permintaan juga tidak terlalu bagus. Ada kekhawatiran inventori akhir bulan tidak berkurang," ujar pialang yang berbasis di Kuala Lumpur, mengutip Reuters.

Tahun ini tampaknya permintaan sawit masih cenderung lemah. Pasalnya, dampaknya perlambatan ekonomi dunia masih terasa.

Kemarin, Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur India periode April versi Nikkei dibacakan hanya sebesar 51,8. Meski angka di atas 50 berarti masih ada ekspansi, namun nilainya turun dibanding bulan sebelumnya yang sebesar 52,6. Selain itu capaian bulan April masih lebih rendah dibanding prediksi konsensus yang sebesar 52,5 , mengutip Trading Economics.

Seperti yang telah diketahui, India merupakan importir minyak sawit terbesar di dunia. Minyak sawit banyak digunakan untuk berbagai industri di India, seperti industri makanan, kosmetik, dan farmasi. Aktivitas industri yang mengendur tentu saja akan berdampak pada pertumbuhan permintaan yang lemah.

Wajar saja apabila pelaku pasar takut akan banjir pasokan terjadi lagi pada tahun ini. Pasalnya produksi minyak sawit tahun ini terpantau lebih tinggi dibanding tahun lalu.

Sepanjang kuartal I-2019, Malaysia telah memproduksi CPO sebanyak 4,95 juta ton, naik 10% dibanding kuartal I-2018 yang sebesar 4,50 juta ton.

TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading