Suntik Tri Indonesia, Boy Thohir Masih Irit Bicara

Market - Daniel Wiguna, CNBC Indonesia
27 April 2019 16:01
Garibaldi 'Boy' Thohir, berencana menyuntik dana segar ke PT Hutchison 3 Indonesia (Tri Indonesia).
Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu konglomerat Indonesia, Garibaldi 'Boy' Thohir, berencana menyuntik dana segar ke PT Hutchison 3 Indonesia (Tri Indonesia) melalui skema penyerapan saham hasil penerbitan saham baru (rights issue) perseroan senilai Rp 47 triliun.

Orang terkaya nomor 16 di Indonesia versi Forbes 2018 ini (kekayaan mencapai US$ 1,6 miliar atau sekitar Rp 24 triliun) ini akan menyerap lagi saham Tri lewat PT Tiga Telekomunikasi, bersama pemegang saham lama yakni Hutchison Asia Telecom.

Riset PT Kresna Sekuritas pada 26 April lalu mengungkapkan struktur pemegang saham baru setelah pemegang saham lama baik Tiga maupun Hutchison menyerap rights issue nantinya yakni 66% Hutchison Asia Telecom, 33% Tiga Telekomunikasi, dan 1,0% Cyber Access Communications.

Saat ditemui pada peluncuran aplikasi rintisan (startup) berbasis komunitas Muslim miliknya yakni Umma, Kamis pekan ini (25/4/2019, Boy Thohir yang juga Direktur Utama PT Adaro Energy Tbk (ADRO) ini tidak membantah informasi tersebut, meski enggan membeberkan detail.

"Ngomong tentang Tri-nya nanti saja ya kasihan nanti sama Umma. Minggu depan aja ya ngomongnya supaya informasinya enggak habis di sini," tegasnya kepada CNBC Indonesia, Kamis lalu.


Tiga Telekomunikasi ialah perusahaan yang terafiiasi dengan Boy Thohir, sementara Hutchison Asia Telecom adalah anak usaha dari Grup CK Hutchison, perusahaan yang dibangun oleh konglomerat Hong Kong, Li Ka-Shing.


Selain Tri, di Indonesia, grup bisnis ini melalui Hutchison Ports (anak usaha CK Hutschison) juga bermitra dengan BUMN pelabuhan, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II untuk membentuk Jakarta International Container Terminal (JICT) yang mengelola terminal peti kemas di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Suntik Tri Indonesia, Boy Thohir Masih Irit BicaraFoto: Hutchison

Situs resmi Hutchison Asia mengungkapkan Tri mengoperasikan 
nasional berlisensi 2G, 3G/WCDMA dan 4G LTE GSM. Tri juga didukung teknologi 4G LTE di 7.900 desa dan kelurahan, 4,5G di 7.400 desa dan kelurahan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali dan Lombok, serta fiber optik yang membentang sepanjang 16.000 kilo meter.



Dalam riset PT Indo Premier Sekuritas per 22 April lalu, kabar suntikan dana jumbo dari Tiga dan Hutchison ini akan memberikan
sentimen positif bagi sektor telekomunikasi mengingat peluang konsolidasi emiten sektor telco ini semakin terbuka.

Namun injeksi modal dalam rights issue Tri Indonesia tersebut memang masih menunggu persetujuan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sehingga belum bisa dipastikan dampaknya bagi sektor telco.

"Kami netral untuk sektor telco saat ini, mengingat potensi masuknya dana baru di Tri masih menunggu approval Kominfo," tulis riset Indo Premier.

Sekuritas ini juga tetap memantau aksi korporasi lanjutan dari Tri dan operator lain, termasuk juga potensi perbaikan struktur keuangan perusahaan.

Dalam riset Kresna, Tri Indonesia dipandang akan menjadi 'black swan' di industri telco. Istilah yang berarti 'angsa hitam' ini mengacu pada posisi tawar Tri yang bakal besar, sulit diprediksi dan di luar perkiraan biasa.

Hal itu mengingat injeksi modal hingga Rp 47 triliun itu akan menjadikan Tri sebagai operator terbesar kedua, berdasarkan ekuitas, setelah PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM sebesar Rp 106 triliun.

Bandingkan dengan ekuitas milik PT XL Axiata Tbk/EXCL (Rp 18,3 triliun), PT Smartfren Telecom Tbk/FREN (Rp 12,4 triliun), dan PT Indosat Tbk/ISAT (Rp 12,1 triliun) per akhir tahun 2018.

"Dengan asumsi 2,0 kali DER [debt equity ratio/rasio utang terhadap ekuitas], injeksi ekuitas baru dapat meningkatkan ruang keuangan Tri hingga Rp 141 triliun," tulis riset Kresna.

Simak ulasan rencana suntikan modal Rp 47 triliun dari Hutchison dan Tiga Telekomunikasi.
[Gambas:Video CNBC]

(tas/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading