Kontraksi Ekonomi Korsel Runtuhkan Harga Obligasi Indonesia

Market - Arif Gunawan, CNBC Indonesia
25 April 2019 19:27
Kontraksi Ekonomi Korsel Runtuhkan Harga Obligasi Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Tren penurunan harga obligasi rupiah pemerintah mulai terbentuk hari ini, dengan penurunan yang terjadi pada hari keempat. Koreksi hari ini dipicu oleh keluarnya data pertumbuhan ekonomi Korea Selatan yang di luar dugaan melambat, sehingga dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Turunnya harga surat utang negara (SUN) Indonesia ini tidak senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara berkembang yang lain. Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).  

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder. Yield juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka. 


SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun. 

Seri acuan yang paling melemah adalah FR0078 yang bertenor 10 tahun dengan kenaikan yield 5,7 basis poin (bps) menjadi 7,73%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Hari ini, bank sentral Korsel mengumumkan adanya perlambatan ekonomi 0,3% pada kuartal I-2019 dibanding kuartal sebelumnya dan membuat prediksi tahun ini akan lebih rendah daripada prediksi sebelumnya serta berdampak pada kondisi ekonomi negara lain. 

Keluarnya data tersebut membuat koreksi yang terjadi di pasar obligasi domestik terjun lebih dalam dibandingkan dengan posisi pagi hari, dan berdampak serupa pada pasar saham domestik serta regional.
  
Yield Obligasi Negara Acuan 25 Apr'19
SeriJatuh tempoYield 24 Apr'19 (%)Yield 25 Apr'19 (%)Selisih (basis poin)Yield wajar IBPA 25 Apr'19
FR00775 tahun7.1657.1821.707.1545
FR007810 tahun7.687.7375.707.7091
FR006815 tahun8.1318.173.908.1831
FR007920 tahun8.2658.3094.408.2898
Avg movement3.92
Sumber: Refinitiv  

Koreksi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih melemah.  Indeks tersebut turun 0,63 poin (0,26%) menjadi 247,01 dari posisi kemarin 247,65. 

Koreksi SBN hari ini juga membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 521 bps, melebar dari posisi kemarin 514 bps. Yield US Treasury 10 tahun turun lagi hingga 2,52% dari posisi kemarin 2,53%. 

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 954,43 triliun SBN, atau 38,48% dari total beredar Rp 2.480 triliun berdasarkan data per 24 April.  

Angka kepemilikannya masih positif Rp 61,18 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. Koreksi di pasar surat utang hari ini juga terjadi di pasar ekuitas dan pasar uang, yang terkoreksi dalam yaitu 1,16%. 

Dari pasar surat utang negara berkembang, penguatan terjadi di China, India, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Di negara maju, penguatan hanya terjadi di pasar gilt Inggris.  
 
Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang
NegaraYield 24 Apr'19 (%)Yield 25 Apr'19 (%)Selisih (basis poin)
Brasil9.029.053.00
China3.4353.433-0.20
Jerman-0.013-0.0070.60
Perancis0.3490.3631.40
Inggris 1.1731.157-1.60
India7.4737.451-2.20
Jepang-0.041-0.0281.30
Malaysia3.8573.809-4.80
Filipina6.0545.994-6.00
Rusia8.258.294.00
Singapura2.162.160.00
Thailand2.482.475-0.50
Amerika Serikat2.5222.5270.50
Afrika Selatan8.558.627.00
Sumber: Refinitiv  

TIM RISET CNBC INDONESIA


(ags/ags)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading