Setelah Stagnan, Harga Batu Bara Akhirnya Rebound

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
24 April 2019 10:58
Setelah Stagnan, Harga Batu Bara Akhirnya Rebound
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara Newcastle kontrak pengiriman April ditutup menguat 0,18% di posisi US$ 84,6/metrik ton pada perdagangan Selasa (23/4/2019) kemarin.

Rebound ini terjadi setelah sebelumnya harga batu bara stagnan di posisi US$ 84,45/metrik ton pada Senin pekan ini.

Selama sepekan, harga batu bara tercatat stagnan, sedangkan sejak awal tahun 2019 masih membukukan pelemahan sebesar 17,1%.




Prediksi peningkatan impor batu bara di sejumlah negara tampaknya mampu sedikit mengangkat harga.

Menurut analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, inventori batu bara thermal di enam pembangkit listrik utama China turun 0,6% menjadi tinggal 16,4 juta ton untuk minggu yang berakhir pada 12 April 2019.


Sejalan dengan hal tersebut, pembakaran batu bara mingguan juga meningkat 3,9% menjadi 7 juta ton pada periode yang sama.

Mirae juga memprediksi impor batu bara Jepang periode Maret akan meningkat dibanding bulan sebelumnya. Itu terjadi karena adanya faktor musiman.

Suhu yang sudah meningkat di bumi belahan utara biasanya memang membuat kebutuhan listrik meningkat akibat pemakaian pendingin udara.


Alhasil permintaan energi dari batu bara diprediksi meningkat, setidaknya untuk jangka pendek.

Akan tetapi pergerakan harga batu bara masih mendapat tekanan akibat peningkatan produksi di China. Perusahaan-perusahaan tembang batu bara China tahun ini bahkan menargetkan peningkatan produksi sebesar 100 juta ton.

Hal tersebut disampaikan oleh Wang Hongqiao, Wakil Presiden Asosiasi Batu Bara Nasional China, mengutip Reuters, Selasa (9/4/2019).

Peningkatan produksi lokal tentu saja bukan berita baik di pasar batu bara global. Pasalnya tahun 2018 saja produksi batu bara China sudah menyentuh 4 miliar ton, berdasarkan data dari Biro Statistik Nasional (National Bureau of Statistics/NBS). Lembaga tersebut juga mengatakan ada 194 juta ton kapasitas produksi tambahan di tahun 2019.

Beberapa analis memperkirakan impor batu bara thermal China akan turun pada kisaran 10-12 juta ton pada tahun 2019 karena adanya peningkatan produksi domestik.

Batu bara thermal atau yang dikenal juga sebagai steaming coal adalah batu bara yang biasa dibakar untuk menggerakkan turbin penghasil listrik.

Menurut kepala perdagangan komoditas Noble Group, Rodrigo Echeverri, impor batu bara China akan berkurang signifikan mulai kuartal II-2019 akibat tergeser batu bara domestik.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(taa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading