Pasar Obligasi Koreksi, Minat Lelang SUN Malah Tembus Rp 42 T

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
23 April 2019 18:06
Pasar Obligasi Koreksi, Minat Lelang SUN Malah Tembus Rp 42 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menerbitkan Rp 23,4 triliun surat utang negara (SUN) dalam lelang yang digelar Selasa siang tadi (23/4/2019) di tengah kondisi pasar obligasi yang tengah terkoreksi.

Nilai penerbitan dalam lelang tersebut menunjukkan angka yang lebih besar dibanding lelang SUN konvensional sebelumnya pada 9 April sebesar Rp 15,72 triliun. Nilainya juga masih lebih tinggi dibandingkan rerata nilai penerbitan sejak awal tahun Rp 23,11 triliun.

Dalam lelang tersebut, pemerintah menawarkan tujuh seri SUN yaitu dua seri surat perbendaharaan negara (SPN) bertenor kurang dari 1 tahun dan lima seri kupon tetap (fixed rate, FR) yang bertenor lebih dari 1 tahun.



Permintaan dari peserta lelang hari ini masuk mencapai Rp 41,76 triliun, di atas lelang sebelumnya Rp 31,84 triliun tetapi masih di bawah rerata permintaan dalam lelang sejak awal tahun Rp 58,68 triliun.

Selasa ini, pemerintah juga turut menerbitkan SUN syariah, atau biasa disebut surat berharga syariah negara (SBSN) alias sukuk senilai Rp 641,59 miliar melalui penawaran terbatas (private placement).

Penerbitan dan nilai penawaran yang ramai hari ini bertolak belakang dengan koreksi yang terjadi di pasar SUN sekunder, karena biasanya kondisi negatif di pasar akan mempengaruhi hasil lelang baik dari minat penawaran peserta lelang ataupun nilai penerbitan yang tidak besar.


Hari ini, pasar obligasi terkoreksi, tercermin dari pergerakan harga dari empat seri acuan ketika belum ada sentimen yang cukup kuat mengangkat harga SUN.

Data Refinitiv menunjukkan harga empat seri acuan (benchmark) turun yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield). Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder.

Yield
juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum.

Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling melemah adalah FR0078 yang bertenor 10 tahun dengan kenaikan yield 3,5 basis poin (bps) menjadi 7,65%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.   

Yield Obligasi Negara Acuan 23 Apr'19
SeriJatuh tempoYield 22 Apr'19 (%)Yield 23 Apr'19 (%)Selisih (basis poin)Yield wajar IBPA 23 Apr'19
FR00775 tahun7.1177.1260.907.0879
FR007810 tahun7.6177.6523.507.6235
FR006815 tahun8.0558.0873.208.0748
FR007920 tahun8.1948.2081.408.218
Avg movement2.25
Sumber: Refinitiv  

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 951,63 triliun SBN, atau 38,73% dari total beredar Rp 2.479 triliun berdasarkan data per 22 April.

Angka kepemilikannya masih positif atau bertambah Rp 58,38 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama.

Koreksi di pasar surat utang hari ini tidak seperti yang terjadi di pasar ekuitas yang naik 0,75%.

Dari pasar surat utang negara berkembang, hampir seluruhnya terkoreksi dan penguatan hanya terjadi di Malaysia, sedangkan di antara negara maju pasar obligasi yang menguat hanya di US Treasury AS.

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang
NegaraYield 22 Apr'19 (%)Yield 23 Apr'19 (%)Selisih (basis poin)
Brasil8.968.982.00
China3.4193.4341.50
Jerman0.0240.0472.30
Perancis0.3670.4013.40
Inggris1.1971.2252.80
India7.4197.4664.70
Jepang-0.029-0.0280.10
Malaysia3.9323.891-4.10
Filipina6.1376.1370.00
Rusia8.258.261.00
Singapura2.1712.1952.40
Thailand2.492.51.00
Amerika Serikat2.592.583-0.70
Afrika Selatan8.4658.5357.00
Sumber: Refinitiv   

TIM RISET CNBC INDONESIA

(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading