Kinerja Goldman Sachs & Citigroup Loyo, Wall Street Ikut Lesu

Market - Prima Wirayani, CNBC Indonesia
16 April 2019 06:16
Kinerja Goldman Sachs & Citigroup Loyo, Wall Street Ikut Lesu Foto: Reuters
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks-indeks acuan Wall Street ditutup melemah, Senin (15/4/2019), saat para investor mencerna laporan kinerja keuangan kuartal pertama tahun ini dari bank-bank besar, seperti Goldman Sachs dan Citigroup.

Dow Jones Industrial Average tergelincir 0,1%, S&P 500 terkoreksi tipis 0,06%, dan Nasdaq Composite melemah 0,1% di akhir perdagangan.



Goldman Sachs melaporkan pendapatan US$ 8,81 miliar di kuartal pertama tahun ini, lebih rendah dari konsensus pasar yang dihimpun Reuters yaitu US$ 8,99 miliar.


Laba per saham (Earnings Per Share/EPS) Goldman Sachs berada di US$ 5,71 atau turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu US$ 6,95. Kinerja Goldman Sachs yang lesu ini membuat harga sahamnya amblas 3,81% dan mencatatkan penurunan harian terdalam sejak 21 Desember.

Sementara itu, laba Citigroup melampaui perkiraan. Namun, pendapatan dari bisnis trading saham yang anjlok 20% berkontribusi terhadap penurunan pendapatan secara keseluruhan sebesar 2%. Ini membuat sahamnya terpeleset 0,1%, dilansir dari CNBC International.

Jumat pekan lalu, JPMorgan Chase dan Wells Fargo telah lebih dulu melaporkan kinerja keuangannya. JPMorgan mampu memberi sentimen positif bagi pasar sementara saham Wells Fargo harus turun setelah chief financial officernya memberi peringatan penurunan laba di masa depan.

Meski kinerja bank-bank Amerika Serikat (AS) sejauh ini bervariasi, secara umum musim laporan keuangan kali ini mencatatkan awal yang solid. Dari seluruh perusahaan yang sudah melaporkan kinerjanya, 85% di antaranya mampu melampaui perkiraan analis.

Selain itu, Wall Street juga memantau perkembangan diskusi dagang AS-China. Dua orang sumber mengungkapkan kepada Reuters bahwa Washington melunak dan bersedia mengurangi tuntutannya kepada Beijing.



AS melunak dalam hal kebijakan subsidi China kepada perusahaan milik negara. Sepertinya AS tidak akan banyak protes soal kebijakan ini, dan memilih fokus ke bidang lain yaitu penghapusan kewajiban alih teknologi bagi perusahaan asing, perlindungan terhadap hak atas kekayaan intelektual, dan perluasan akses AS ke pasar domestik China.

Sikap AS ini membuat pintu damai dagang dengan China menjadi semakin terbuka. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading