Kenapa Fitch Pangkas Prospek Saka Energi?

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
12 April 2019 14:48
Kenapa Fitch Pangkas Prospek Saka Energi? Foto: ist Saka Energi
Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga pemeringkat Fitch Ratings memangkas prospek (outlook) peringkat utang PT Saka Energi Indonesia menjadi "negatif" dari "stabil" karena potensi penurunan porsi kepemilikan saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) di perseroan.

Saka Energi adalah perusahaan eksplorasi dan produksi migas yang sebelumnya dimiliki 100% oleh PGAS.

Dalam riset pemeringkatan yang sama, Fitch Ratings tidak mengubah peringkat utang Saka Energi pada level BB+, beserta surat utang perseroan senilai US$ 625 juta yang akan jatuh tempo pada 2024.


"Revisi outlook didorong oleh penilaian kami terhadap hubungan dengan induk usahanya yaitu PGAS, dan saat ini PGAS sedang dalam proses menurunkan porsi kepemilikan di Saka," ujar Shahim Zubair, Direktur-Primary Analyst Saka Energi dalam riset, Jumat (12/4/19).

Hal tersebut, tutur Zubair, menciptakan ketidakpastian terhadap posisi Saka Energi setelah adanya pengumuman struktur kepemilikan BUMN di Holding Migas.

Fitch juga meyakini PGAS tidak lagi menganggap Saka Energi sebagai anak usaha yang sangat terintegrasi.
 Meskipun kepemilikannya berkurang, tapi pemeringkatan Saka Energi masih memungkinkan menggunakan pendekatan top-down dan dihubungkan dengan peringkat utang BBB- milik PGAS.

"Fitch masih akan mengkaji kembali keterkaitan perseroan setelah rencana reposisi Saka Energi semakin jelas."

Kendati demikian, Fitch sudah menurunkan profil kredit Saka Energi menjadi B dari B+ yang mencerminkan turunnya produksi dan cadangan perseroan.

Fitch juga memprediksi produksi Saka Energi akan turun menjadi 40-45 ribu barel minyak per hari (boepd) pada 2019 dari 50 ribu boepd pada 2018, terutama karena sudah kadaluarsanya kontrak dua konsesi tambang yang berkontribusi sebesar 10% terhadap total produksi 2018.

Lembaga pemeringkat itu juga memprediksi cadangan hidup Saka Energi berumur kurang dari 5 tahun, yang sudah memasukkan faktor penurunan produksi pada 2019 tadi.

TIM RISET CNBC INDONESIA




(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading