Jelang Pilpres, Optimisme Konsumen Semakin Surut?

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
05 April 2019 15:57
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan Maret 2019 hanya sebesar 124,5 atau turun 0,6 poin dibandingkan bulan Februari yang sebesar 125,1
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan Maret 2019 hanya sebesar 124,5 atau turun 0,6 poin dibandingkan bulan Februari yang sebesar 125,1. Hal ini diungkapkan oleh Bank Indonesia (BI) dalam survei konsumen edisi Maret 2019.

Nilai IKK yang masih berada di atas 100 mencerminkan konsumen yang masih optimis terhadap kondisi perekonomian Indonesia, meskipun optimisme tersebut telah berkurang.

Bila melihat data historis, hampir seluruh IKK pada bulan Maret mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya. Hanya pada Maret 2017 saja IKK Maret bisa naik 4,4 poin dari Februari sejak tahun 2015.


Sumber: Bank Indonesia


Rata-rata IKK sepanjang kuartal I-2019 tercatat sebesar 125, yang mana naik 1,6 poin dibanding kuartal I-2018. Ini menunjukkan bahwa optimisme konsumen masih tetap terjaga.

Berdasarkan laporan BI, penurunan IKK pada bulan Maret 2019 paling dalam terjadi di Kota Makassar, dengan koreksi 11,9 poin. Menyusul setelahnya Kota Pangkal Pinang dan Bandar Lampung dengan koreksi masing-masing sebesar 9,4 dan 8 poin.

Penurunan IKK disebabkan oleh komponen penyusunnya yang juga turun. Dua komponen tersebut adalah Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Ekonomi (IEK).

Penurunan IKE utamanya disebabkan oleh keyakinan konsumen untuk melakukan pembelian barang tahan lama (durable goods). Indeks pembelian durable goods bulan Maret turun 2,3 poin menjadi tinggal 110,1 yang merupakan angka paling rendah di tahun 2019.

Gejalanya sebenarnya sudah dapat dilihat sejak awal tahun. Penjualan mobil yang merupakan salah satu indikator ekonomi yang penting cenderung lesu di awal tahun ini. Tercatat sepanjang Januari-Februari 2019 penjualan mobil hanya sebanyak 164.675 unit, atau turun sebesar 14% dibanding Januari-Februari 2018.

Kredit perbankan untuk konsumsi di bulan Februari juga hanya mampu tumbuh sebesar 9,55% YoY atau yang paling rendah sejak Mei 2017.

Ini merupakan pertanda yang kurang baik bagi industri barang tahan lama. Menurut penuturan konsumen penurunan pembelian juga terjadi untuk barang elektorik seperti televisi, komputer, dan handphone.

Sumber: Bank Indonesia


Selain itu indeks ketersediaan lapangan kerja juga kembali amblas 0,4 poin menjadi tinggal 95,2 yang merupakan nilai paling rendah sejak Oktober 2018. Sudah sejak Maret 2018 indeks ini selalu berada di bawah angka 100. Artinya belakangan ini mencari pekerjaan merupakan hal yang cukup sulit.

Ekspektasi konsumen akan kondisi ekonomi dalam 6 bulan ke depan juga kembali turun Tercermin dari nilai IEK bulan Maret yang terpangkas sebesar 0,7 poin dibanding bulan sebelumnya.

Indeks ekspektasi penghasilan pun harus kembali turun 2 poin menjadi 151,6. Ini merupakan indikasi bahwa harapan konsumen akan peningkatan penghasilan dalam kurun waktu 6 bulan sudah mulai susut. Walaupun masih optimis.

Alhasil, konsumen cenderung lebih banyak menabung pada bulan Maret. Terlihat dari porsi tabungan yang mencapai 20,1% terhadap total pendapatan. Porsi tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 19,1%.

Sedangkan porsi konsumsi bulan Maret turun menjadi tinggal 68,1% dari yang sebelumnya 68,3%. Adapun porsi pembayaran cicilan pinjaman juga turun menjadi 11,8% dari 12,5% pada bulan sebelumnya. Artinya konsumen sedang cenderung main aman dan konservatif di bulan Maret.

Sumber: Bank Indonesia


TIM RISET CNBC INDONESIA


(taa/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading