Menakar Saham Grup Astra, AALI Termahal & AUTO Termurah

Market - Dwi Ayuningtyas, CNBC Indonesia
05 April 2019 10:50
Menakar Saham Grup Astra, AALI Termahal & AUTO Termurah
Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan yang tergabung dalam kelompok usaha atau Grup Astra sudah selesai melaporkan kinerja keuangan 2018. Mayoritas berhasil membukukan laba bersih, tapi tak semua tumbuh.

Satu emiten Grup Astra yang membukukan penurunan kinerja adalah PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dimana laba bersih turun 26,9% YoY. Penurunan laba bersih AALI disebabkan anjloknya harga rata-rata sawit dunia di tahun 2018 hingga 9,1% dibanding rata-rata harga tahun 2017.

Selain AALI, Grup Astra sendiri setidaknya memiliki 4 perusahaan lain yang juga terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), dimulai dari induknya PT Astra International Tbk (ASII), PT Astra Graphia Tbk (ASGR), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO).

Dari laporan keuangan tahun lalu, investor dapat mulai untuk menganalisa kinerja Grup Astra berdasarkan capaian fundamental perusahaan.


Laporan keuangan sejatinya dapat dimanfaatkan pelaku pasar untuk menentukan layakkah untuk terus berinvestasi pada suatu emiten tertentu. Atau malah sebaiknya melipir ke pesaingnya atau industri lain karena prospek bisnis kurang memuaskan.

Nah, untuk mengukur apakah harga saham suatu emiten memang cocok diapresiasi dengan harga saat ini, salah satu indikator yang dapat digunakan adalah price-earning-ratio/PER.

Sebagai informasi PER adalah salah satu bentuk analisis fundamental perusahaan dengan cara membagi harga saham saat ini dengan keuntungan tahunan per saham. Hasil perhitungan PER dapat diimplikasikan sebagai seberapa besar ekspektasi investor terhadap return (imbal hasil) emiten.

Emiten dikatakan relatif mahal (overvalued) ketika PER-nya lebih besar dibanding PER Industri. Sebaliknya emiten disebut relatif murah (undervalued) ketika nilai PER-nya lebih rendah dibanding PER industri. Perlu diingat, jika perusahaan mencatatkan kerugian, maka PER tidak dapat dihitung.

Manakah Emiten Grup Konglomerat Astra Yang Patut Dikoleksi?CNBC Indonesia/Dwi Ayunintyas

Jika dibandingkan dengan PER industrinya, harga saham ASGR terbilang relatif mahal karena nilai PER emiten tersebut mencapai 16,3 kali, sedangkan PER industri perkebunan hanya 4,9 kali. Terlebih lagi, dengan laba perusahaan anjlok yang anjlok di tahun 2018, nampaknya akan sulit bagi emiten ini untuk mencatatkan kenaikan harga signifikan kedepannya.

Lebih lanjut, emiten ASII dan AUTO menunjukkan valuasi saham yang relatif murah, sehingga kedepannya harga saham ASII masih mungkin tumbuh. Hal ini dikarenakan apresiasi investor terhadap saham-saham tersebut cukup rendah dibanding kinerja perusahaan.

Astra Ikut Suntik Gojek
[Gambas:Video CNBC]

Di lain pihak, uniknya ada dua emiten yang sulit dievaluasi karena data BEI mencatatkan PER industri untuk emiten tersebut memiliki nilai negatif. Ini artinya secara umum perusahaan yang tergolong dalam industri tersebut membukukan laba per saham dasar negatif. Dimana ini bisa menjadi sinyal waspada kepada pelaku pasar, karena nampaknya industri sulit tumbuh.

Namun, pendapat lain mengatakan bahwa perolehan ini sangat mungkin dicapai terutama pada industri seperti farmasi dan teknologi, karena umumnya investasi untuk ekspansi usaha yang dikeluarkan perusahaan cukup besar, yang akhirnya menekan perolehan laba.

Jika capaian PER ASGR dibandingkan dengan pesaingnya yaitu PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) dan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), nilainya masih relatif lebih rendah. Pasalnya PER MTDL ada di 9,15 kali, sedangkan PER MLPT ada di 26,04 kali.

Di lain pihak, untuk emiten UNTR jika dibandingkan dengan kompetitornya, nilai PER UNTR relatif wajar. PER PT Hexindo Adi Perkasa Tbk (HEXA) adalah 5,93 kali, dan PER PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) sebesar 9,47 kali.

TIM RISET CNBC INDONESIA (dwa/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading