Masih Dibayangi Resesi, Dolar Tak Bergairah

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
26 March 2019 20:06
Indeks dolar (DXY) yang biasanya digunakan untuk mengukur kekuatan mata uang negeri Paman Sam tersebut terlihat loyo
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks dolar (DXY) yang biasanya digunakan untuk mengukur kekuatan mata uang negeri Paman Sam tersebut terlihat loyo jelang dibukanya perdagangan sesi AS Selasa (26/3/19).

Terpantau indeks dolar pada pukul 18:54 WIB berada di kisaran 96,52 (-0,04%). 

Statement  dari dua orang ternama di dunia moneter AS belum mampu meyakinkan pelaku pasar jika AS tidak akan mengalami resesi.


Senin (25/3/19) kemarin Charles Evans, Presiden Federal Reserve (The Fed) wilayah Chicago, menyatakan meski perekonomian AS melambat namun secara keseluruhan masih bagus, dan peluang terjadinya resesi di bawah 25%.

Di hari yang sama Janet Yellen, mantan bos The Fed periode 2014 - 2018, menyatakan tidak melihat adanya risiko inflasi, namun tingkat suku bunga The Fed dikatakan terlalu tinggi.

Pernyataan-pernyataan tersebut belum mampu meredakan kecemasan pelaku pasar akan potensi resesi negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut. Hal tersebut terlihat dari inversi imbal hasil obligasi AS yang semakin lebar.

Inversi merupakan sebuah fenomena di mana yield obligasi tenor pendek lebih tinggi dibandingkan tenor panjang. Padahal dalam kondisi normal, yield tenor panjang akan lebih tinggi karena memegang obligasi tenor panjang pastilah lebih berisiko ketimbang tenor pendek.

Berkaca dari sejarah, jika terjadi inversi antara yield obligasi tenor 3 bulan dengan tenor 10 tahun maka AS tidak lama kemudian akan mengalami resesi. Kali terakhir hal tersebut terjadi di Januari 2007 dan AS mengalami resesi di akhir 2018.

Di tahun ini, inversi dua surat utang AS tersebut terjadi pada hari Jumat (22/3/19) dimana selisih yield obligasi AS tenor 3 bulan lebih tinggi sebesar 0,7 bps dari yield obligasi AS tenor 10 tahun. Sementara pada penutupan perdagangan Senin kemarin selisih melebar menjadi 3,6 bps, yang mengindikasikan pelaku pasar semakin yakin AS akan mengalami resesi.

Rilis data tingkat keyakinan konsumen AS malam ini pukul 21:00 WIB bisa jadi menentukan arah nasib dolar pada perdagangan hari ini. Mengutip Forex Factory, angka indeks tingkat keyakinan konsumen AS bulan ini diperkirakan naik menjadi 132,1 dibandingkan bulan Februari 131,4.

Data ini merupakan leading indicator untuk melihat tingkat keyakinan masyarakat AS dalam melakukan konsumsi. Belanja konsumen merupakan tulang punggung perekonomian AS yang berkontribusi sekitar 68% dari produk domestik bruto (PDB) AS.

Jika data ini dirilis lebih tinggi dari perkiraan 132,1, yang berarti masyarakat AS masih optimis terhadap kondisi ekonomi dan tidak ragu untuk berbelanja, dolar AS berpotensi menguat. Namun jika data ini dirilis  lebih rendah dari perkiraan, dolar AS kemungkinan besar akan kembali jeblok.  



TIM RISET CNBC INDONESIA


(pap/dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading