Ekonomi Eropa Masih Lesu, Harga Emas Terus Menguat

Market - Taufan Adharsyah, CNBC Indonesia
25 March 2019 08:43
Ekonomi Eropa Masih Lesu, Harga Emas Terus Menguat
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas global pada perdagangan Senin (25/3/2019) pagi ini masih berada di zona hijau.

Hingga pukul 08:30 WIB, harga emas kontrak April di bursa New York Commodity Exchange (COMEX) naik sebesar 0,04% ke posisi US$ 1.312,8/troy ounce, setelah menguat 0,38% pada akhir pekan lalu (22/3/2019)

Adapun harga emas di pasar spot juga naik 0,02% ke posisi US$ 1.313,4/troy ounce, setelah naik 0,3% pada akhir pekan lalu.


Selama sepekan harga emas di bursa COMEX dan spot telah menguat masing-masing sebesar 0,87% dan 0,76% secara point-to-point. Adapun sejak awal tahun rata-rata kenaikan harga keduanya sebesar 2,42%.



Pergerakan harga emas masih dibantu oleh kekhawatiran pelaku pasar akan kondisi perekonomian global yang masih tampak melambat.

Akhir pekan lalu, Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur zona Eropa periode Maret berada di posisi 47,6. Turun dari posisi bulan Februari yang sebesar 49,5. Bahkan rilis yang terakhir itu merupakan kontraksi yang paling dalam sejak April 2013, atau hampir enam tahun lalu.


Sebagai informasi, nilai PMI manufaktur di atas 50 dapat diartikan terjadi ekspansi pada sektor industri manufaktur. Berlaku pula sebaliknya.

Kala kondisi perekonomian global sedang lesu dan cenderung tak pasti, maka investor makin enggan untuk agresif berinvestasi pada instrumen berisiko lain. Emas pun dilirik karena sifatnya sebagai pelindung nilai.

"Ada permintaan akan safe [emas] yang naik ke permukaan," ujar Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals, mengutip Reuters.

Di samping itu, pada pekan lalu bank sentral AS, The Fed juga kembali memangkas proyeksi kenaikan suku bunga acuannya. Terlihat dari dot plot (proyeksi arah suku bunga jangka menegah) yang berubah.

Pada dot plot hasil rapat The Fed edisi Maret, proyeksi suku bunga berada di median 2,375%, turun dari proyeksi pada rapat edisi Desember 2018 yang berada di median 2,875%.

Bila suku bunga di AS akan dipertahankan untuk jangka waktu menengah, bahkan hingga akhir tahun ini, maka dolar menjadi rentan terhadap tekanan mata uang lain. Risiko koreksi nilai aset-aset yang berbasis dolar pun meningkat.

Ini semakin mengonfirmasi investor untuk mengalihkan asetnya pada safe haven lain, salah satunya emas. Tak ayal hingga akhir pekan lalu, emas banyak diburu sehingga memicu kenaikan harga.

TIM RISET CNBC INDONESIA

(taa/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading