The Fed Beri Kabar Gembira, BI: Rupiah Bakal Lebih Stabil

Market - Chandra Gian Asmara, CNBC Indonesia
21 March 2019 10:47
The Fed Beri Kabar Gembira, BI: Rupiah Bakal Lebih Stabil
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih menguat. Mata uang Paman Sam kini sudah berada di level Rp 14.100/US$.

Pada Kamis (21/3/2019) pukul 10:00 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.125. Rupiah menguat 0,39% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Bank Indonesia (BI) sebagai garda terdepan penjaga nilai tukar pun cukup optimistis, pergerakan mata uang Garuda ke depan akan lebih stabil di sisa tahun ini.


"Dengan sinyal dari the Fed yang semakin jelas, akan membuka jalan bagi rupiah untuk lebih stabil di tahun ini," kata Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah kepada CNBC Indonesia.




Hasil rapat komite pengambil kebijakan The Federal Reserve/The Fed (Federal Open Market Committee). Jerome 'Jay' Powell dan kolega memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 2,25-2,5% atau median 2,375%, sesuai ekspektasi pasar.

The Fed juga mengubah dot plot (arah suku bunga acuan hingga jangka menengah). Pada dot plot edisi Desember 2018, The Fed masih menargetkan median suku bunga acuan di 2,875% pada akhir 2019 sehingga butuh dua kali kenaikan lagi dari posisi sekarang.

Namun di dot plot teranyar, The Fed memperkirakan median suku bunga acuan pada akhir tahun ada di 2,375% atau sama seperti saat ini. Artinya, kemungkinan besar tidak akan ada kenaikan suku bunga hingga akhir 2019.

"Stance hasil pertemuan The Fed yang semakin jelas terlihat dari diturunkannya dot plot yang memastikan tidak ada lagi kenaikan FFR hingga akhir 2020. FED juga berencana mengakhiri normalisasi neracanya pada September nanti."




Dolar AS pun ditinggalkan para pengikut setianya, karena tanpa kenaikan suku bunga berinvestasi di mata uang ini menjadi kurang mendatangkan cuan. Arus modal yang meninggalkan dolar AS mengalir ke berbagai penjuru, termasuk ke Asia (tidak terkecuali Indonesia).

"Arus modal masuk akan ditopang oleh trend dolar AS yang melemah terhadap mata uang lain," jelasnya.

Selain itu, sambung Nanang, derasnya aliran modal asing juga akan masuk ke pasar obligasi pemerintah seiring dengan spread antara US treasury yield 10 tahun dengan SBN 10 tahun yang makin lebar.

"Sehingga akan mendorong arus modal masuk ke pasar obligasi pemerintah," tegas Nanang.



(dru)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading