Tak Ada 'Obat Kuat', Dolar Loyo di Hadapan Mata Uang Utama

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
19 March 2019 20:59
Tak Ada 'Obat Kuat', Dolar Loyo di Hadapan Mata Uang Utama
Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) terlihat masih tertekan terhadap mata uang utama lainnya di awal perdagangan AS pada Selasa (19/3/19). Sejak Senin kemarin hingga Rabu besok, Amerika Serikat tidak ada merilis data ekonomi penting satupun.

Praktis fokus pelaku pasar tertuju pada rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) AS. Namun, sentimen dari The Fed juga tidak bagus bagi dolar AS setelah isu merebak di pasar jika Bank Sentral paling powerfull di dunia tersebut kali ini akan bersikap dovish.

Pada pukul 20:18 WIB, indeks dolar terpantau melemah 0,22% ke level 96,31. Indeks dolar merupakan instrumen yang mengukur kekuatan mata uang negeri Paman Sam terhadap enam mata uang lainnya, yakni euro, yen, poundsterling, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss.


Sepanjang bulan Maret, ada tiga pimpinan Bank Sentral utama Dunia yang berubah sikap menjadi dovish. Gubernur Bank of Japann (BOJ) pada pekan lalu menunjukkan kekurang-yakinan terhadap performa ekonomi Jepang kedepannya akibat merosotnya tingkat ekspor.


Dua pekan sebelumnya, Gubernur European Central Bank (ECB), Mario Draghi, yang mengkonfirmasi jika perekonomian Zona Euro sedang melambat, bahkan ada kemungkinan lebih dalam dari perkiraannya. Dampak dari pelambatan tersebut, ECB menyatakan suku bunga kemungkinan tidak akan dinaikkan di tahun ini.

Di awal bulan, Philip Lowe, Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA), menyatakan adanya pelambatan di beberapa sektor perekonomian, meski masih bersikap netral terhadap suku bunga, dalam artian dapat dinaikkan ataupun diturunkan.

Benang merah yang bisa ditarik dari sikap para pemimpin Bank Sentral tersebut adalah pelambatan ekonomi global, efek utama dari perang dagang antara AS - China. Ketidakpastian politik di Eropa terkait Brexit juga memperburuk outlook perekonomian.

Pimpinan The Fed, Jerome Powell, diprediksi akan menyusul rekan-rekannya dalam mengambil sikap dovish saat mengumunkan kebijakannya pada Kamis (21/3/19) dini hari waktu Indonesia, tepatnya pukul 1:00 WIB, disusul dengan konferensi pers 30 menit setelahnya.

Penyebabnya sama, perekonomian AS yang menunjukkan tanda-tanda pelambatan. Mengutip situs CME Group, yang mengelola bursa derivatif terkemuka di dunia, berdasarkan Federal Funds Futures pelaku pasar melihat peluang sekitar 76% Federal Fund Rate (FFR) ditahan di level 2,25% - 2,50% hingga akhir tahun.

Hal yang cukup mengejutkan, pelaku pasar juga melihat ada peluang sekitar 22% FFR dipangkas menjadi 2,00% - 2,25%.

Jika The Fed mengkonfirmasi tidak akan menaikkan suku bunga atau bahkan membuka peluang penurunan di tahun ini, hal tersebut akan menjadi twist di pasar finansial mengingat di awal tahun lalu The Fed masih optimis suku bunga akan kembali naik di tahun ini. Dampak instan yang akan terlihat adalah dolar yang semakin tertekan.

TIM RISET CNBC INDONESIA



(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading