Jenis 737 MAX 8 Dilarang, Kekayaan Boeing Anjlok Rp 357 T

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
14 March 2019 16:29
Jenis 737 MAX 8 Dilarang, Kekayaan Boeing Anjlok Rp 357 T Foto: Pesawat Boeing 737 MAX 8 diparkir di fasilitas produksi Boeing di Renton, Washington, AS. (REUTERS / David Ryder)
New York, CNBC Indonesia - Kabar buruk kembali menerpa Boeing pada Rabu sore (13/3/2019) waktu Amerika Serikat (AS). Negara Adidaya tersebut akhirnya ikut bergabung dengan negara-negara lain melarang operasional pesawat jenis Boeing 737 MAX 8.

Saham Boeing (BA) di Bursa Saham New York turun 3% segera setelah Presiden Donald Trump mengumumkan langkah tersebut dari Gedung Putih, mengutip CNN Business. Meski saham Boeing sempat rebound, lalu anjlok lagi Boeing telah anjlok lebih parah sebagai dampak dari pelarangan operasional pesawat jenis tersebut.

Namun, meski pada perdagangan hari Rabu sahamnya ditutup sedikit lebih tinggi, harga saham tercatat sudah turun lebih dari 10% sejak kecelakaan pesawat di Ethiopia terjadi, menghapus lebih dari US$ 25 miliar (sekitar Rp 357 triliun) kapitalisasi pasar perusahaan.

Larangan terbang AS dibuat setelah terjadi dua kecelakaan fatal dalam lima bulan terakhir yang melibatkan jet 737 Max 8. Sebelum pesawat jatuh di Ethiopia pada hari Minggu lalu, pesawat sejenis milik Lion Air juga jatuh di perairan Indonesia pada bulan Oktober 2018. Semua kkorban meninggal dalam kedua kecelakaan itu.


Penyelidik masih mencari penyebab kedua kecelakaan itu hingga saat ini.

Penyelidikan awal menunjukkan bahwa kecelakaan terjadi karena pilot di Lion Air kesulitan mengendalikan pesawat setelah hidung pesawat dipaksa turun oleh fitur keselamatan otomatis. CEO Ethiopian Airlines mengatakan pilotnya juga melaporkan masalah dalam mengendalikan pesawat sebelum kecelakaan terjadi.

Otoritas penerbangan di seluruh dunia telah memerintahkan pesawat-pesawat jenis itu untuk tidak dioperasikan selama tiga hari terakhir. Amerika Serikat pada dasarnya adalah negara terakhir yang melarang dioperasikannya pesawat terbang jenis tersebut.

Boeing mengatakan tetap yakin mengenai keselamatan pesawat-pesawat itu, tetapi perusahaan juga merekomendasikan sendiri penangguhan itu "sebagai tindak kehati-hatian dan untuk meyakinkan publik mengenai keselamatan penerbangan menggunakan pesawat terbang jenis ini," menurut sebuah pernyataan dari perusahaan.

"Kami mendukung langkah proaktif ini," kata CEO Dennis Muilenburg dalam pernyataannya. "Kami melakukan segala yang kami bisa untuk memahami penyebab kecelakaan dalam kemitraan dengan para penyelidik, menyebarkan peningkatan keselamatan dan membantu memastikan ini tidak terjadi lagi."

Dia juga kembali menyatakan simpati perusahaan kepada keluarga korban kecelakaan dan mengatakan bahwa perusahaan tidak memiliki prioritas lebih besar daripada keselamatan pesawatnya.

Saham tiga maskapai AS yang telah menggunakan pesawat Boeing, American Airlines, Southwest dan United Airlines, langsung turun begitu berita itu merebak, namun kemudian dengan cepat rebound ke wilayah positif. Namun, Boeing mungkin saja akan memberikan kompensasi kepada ketiga perusahaan karena dirugikan. Ada 67 unit pesawat jenis 737 Max yang beroperasi milik tiga maskapai itu.

Semua maskapai mengatakan mereka akan bekerja untuk mengakomodasi penumpang yang terkena dampak dari larangan terbang. Namun, pesawat-pesawat itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan armada mereka, di mana pesawat Boeing Max menyumbang kurang dari 3% dari kapasitas masing-masing maskapai.

Boeing memiliki sejarah membayar ganti rugi kepada maskapai jika pesawat yang mereka miliki terpaksa mendarat karena alasan keamanan. Perusahaan pernah melakukan hal tersebut setelah pesawat jenis 787 Dreamliner dilarang terbang selama tiga bulan pada 2013.

Sebelumnya pada Rabu, CEO maskapai murah Eropa, Norwegian Air akan meminta ganti rugi pada Boeing untuk mengganti pendapatan yang hilang akibat penangguhan terbang 18 pesawat 737 Max 8 miliknya. (hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading