OJK Sebut Banyak Investor Asing Ingin Masuk Bisnis Asuransi

Market - Yanurisa Ananta, CNBC Indonesia
12 March 2019 15:52
OJK Sebut Banyak Investor Asing Ingin Masuk Bisnis Asuransi
Jakarta, CNBC IndonesiaIndustri asuransi tahun ini ditargetkan mampu bertumbuh 12%-15%. Target optimistis itu dipatok setelah penerimaan premi industri keuangan non-bank (IKNB) ini hanya tumbuh 9% tahun lalu. Pertumbuhan itu gabungan antara asuransi jiwa dan asuransi umum. 

"Tahun ini target pertumbuhan double digit sekitar 12%-15% atau lebih besar dari itu," kata Direktur Pengawas Asuransi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah dalam Seminar Nasional:  Prospek Bisnis IKNB 2019 di Jakarta, Selasa (12/3/2019).


Dalam paparannya, Ahmad menjelaskan jumlah premi bruto industri asuransi per Desember 2018 mencapai Rp448,67 triliun meningkat 10,05% dari tahun sebelumnya, yaitu Rp407,71 triliun. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan rata-rata premi bruto adalah sekitar 19,5%. Namun, di tahun lalu penerimaan premi hanya tumbuh 9%. 


"Performance 2018 kemarin ada penurunan dari sisi penerimaan premi umum. Mungkin tidak terlalu signifikan tapi buat kami jadi sinyal serius bagaimana meningkatkan percormance di tahun-tahun berikutnya," tambah Ahmad.

Perlambatan kinerja tahun lalu ini, lanjut Ahmad, lebih disebabkan goncangan ekonomi global pada ekonomi nasional. Tahun ini pihaknya mengaku optimistis masih ada peluang bertumbuh di tahun ini. Namun, tidak menutup kemungkinan adanya tantangan-tantangan yang harus dihadapi.

Saat ini, tingkat penetrasi asuransi dari tahun ke tahun masih sekitar 2%-3%. Jauh bila dibandingkan penetrasi asuransi di negara-negara tetangga yang sebesar 6%-7%. Dengan angka ini, menurut Ahmad, menjadi potensi untuk bertumbuh. 

"Potensinya masih besar untuk dikembangkan. Kenapa? karena sekarang-sekarang ini kami banyak menerima permohonan izin asuransi baru. Uniknya sebagian besar justru bukan lokal," tuturnya. 

Di sisi lain, sumber daya manusia (SDM) di bidang asuransi masih sangat minim bila dibandingkan perbankan. Berdasarkan survey internal, SDM lebih tertarik masuk ke perbankan ketimbang IKNB. Terlebih, perbankan lebih gencar menarik calon-calon pegawai potensial sejak dari perguruan tinggi. 

Dana pengembangan SDM di perbankan juga cukup besar dan program pendidikan berkelanjutan di perbankan lebih terstruktur. Sehingga, kata Ahmad, tidak salah bila disebut SDM di IKNB, khususnya asuransi, lebih rendah dibanding perbankan.

"Ini tantangan kami, meskipun kami sudah tentukan persentase tertentu yang harus di alokasikan untuk pengembangan SDM tapi dalam prakteknya belum optimal dilaksanakan." pungkasnya. 

Total aset IKNB saat ini sebesar Rp2.353 triliun, terdiri dari Rp2.255 aset konvensional dan Rp98,57 triliun aset di syariah. Asuransi sendiri menguasai 53% aset dari total IKNB sebesar Rp1.251 triliun. Sisanya dipegang dana pensiun 12% dan lembaga pembiayaan 25%. Sisanya 10% dipegang IKNB jenis lainnya.


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading